Sekelompok insinyur Amazon menghadiri sidang Dewan Kota Seattle pada Rabu (3/6) untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI) di kota tersebut.

Aksi ini dipicu oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang menimpa sekitar 30.000 karyawan demi ambisi pengembangan teknologi kecerdasan buatan.

>>> Inflasi Thailand Naik 2,79 Persen pada Mei 2026, Lebih Rendah dari Perkiraan

Amazon telah menggelontorkan dana sebesar US$ 200 miliar atau sekitar Rp 3.609,8 triliun dalam delapan bulan terakhir untuk membiayai modal investasi pusat data AI raksasa di Seattle.

Insinyur perangkat lunak di Amazon Web Services, Patrick Schloesser, membenarkan besarnya alokasi anggaran yang dikeluarkan oleh pihak manajemen untuk proyek kecerdasan buatan tersebut sepanjang tahun ini.

"Dilaporkan bahwa tahun ini, Amazon menghabiskan US$ 200 miliar untuk modal, sebagian besar dialokasikan untuk pusat data dan AI," kata Schloesser.

Schloesser menilai pemangkasan hubungan kerja dalam jumlah besar ini memperlihatkan agresivitas perusahaan teknologi raksasa dalam membangun infrastruktur komputasi secara instan.

"Para pemimpin di perusahaan saya telah memberhentikan 30.000 karyawan perusahaan dalam delapan bulan terakhir.

Hal itu menunjukkan kepada saya bahwa perusahaan teknologi besar sangat ingin membangun kapasitas komputasi sebanyak mungkin, secepat mungkin," sambungnya.

Schloesser, yang telah bekerja di Amazon selama hampir enam tahun, juga menuntut regulasi ketat dari pemerintah setempat bagi para pengembang infrastruktur kecerdasan buatan tersebut.

>>> Kementerian ESDM Naikkan Alokasi Biodiesel Jadi 17,6 Juta Kiloliter

"Anda harus menyediakan pekerjaan yang layak untuk membangun hal-hal ini, dan Anda harus pagar pajak baru yang mendanai pekerjaan kota setiap kali Anda melakukan PHK besar-besaran," tegasnya.