Secara paralel, optimalisasi pelabuhan digenjot lewat pendalaman alur pelayaran, perluasan lapangan penumpukan, penambahan tambatan, modernisasi fasilitas, hingga penerapan sistem digitalisasi layanan.

Untuk periode tahun 2025 hingga 2026, agenda pembangunan serta rehabilitasi fasilitas pelabuhan milik negara tengah berjalan di 74 titik yang tersebar di wilayah Indonesia.

Langkah penguatan infrastruktur tersebut difokuskan untuk memantapkan konektivitas logistik, menyokong kawasan industri dan hilirisasi, serta mengantisipasi aktivitas perdagangan intra-Asia yang menjadi pilar utama ekspor-impor nasional.

"Pelabuhan Indonesia diharapkan mampu mengimbangi peningkatan arus peti kemas internasional maupun domestik yang diproyeksikan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan," ujarnya.

Kinerja Positif Arus Peti Kemas Triwulan Pertama 2026

Upaya penaikan kapasitas ini sejalan dengan realisasi aktivitas perdagangan di lapangan yang tercermin dari data Pelindo teranyar.

Direktur Utama Pelindo, Achmad Muchtasyar, membeberkan bahwa akumulasi volume peti kemas hingga April 2026 telah menyentuh angka 6,42 TEUs, atau melesat 7% dari periode yang sama di tahun lalu.

"Peningkatan ini ditopang oleh pertumbuhan segmen internasional yang meningkat sekitar 11%, dengan ekspor tumbuh 10% dan impor naik 12%.

>>> Pelemahan Rupiah Berpotensi Dongkrak Ekspor Minyak Sawit Nasional 2026

Sementara itu, arus peti kemas domestik tumbuh sekitar 4%," ujarnya.

Menurut Achmad Muchtasyar, performa ini menjadi bukti bahwa aktivitas perdagangan luar negeri Indonesia masih bergairah.

Jalur distribusi logistik antarpulau juga terjaga kuat, sehingga mampu menyokong daya beli masyarakat dan ekonomi di daerah.

Faktor pasar ekspor-impor Indonesia yang dominan di wilayah Asia juga menjadi pelindung kuat dari dampak ketidakpastian global.

Saat ini, kawasan China dan Asean berkontribusi sebesar 46,2% untuk ekspor dan 56,5% bagi impor nasional.