Lonjakan arus barang terlihat jelas di beberapa pelabuhan utama, seperti Pelabuhan Tanjung Priok yang mencatat kenaikan arus domestik 8%.

Sementara Pelabuhan Makassar tumbuh 7% dipicu oleh pengiriman komoditas pertanian ke wilayah Indonesia timur.

Kinerja kepelabuhanan yang impresif ini menjadi sinyal positif bahwa sektor manufaktur dan perdagangan nasional tetap tangguh pada awal tahun, meski dihadapkan pada situasi geopolitik global yang sempat mengganggu rantai pasok dunia.

Pandangan Pelaku Usaha Terhadap Efisiensi Logistik

Respon positif datang dari dunia usaha yang menilai langkah pemerintah memperluas terminal kontainer sudah sangat tepat demi memenuhi lonjakan permintaan pasar.

Ketua Bidang Perhubungan dan Logistik Apindo, Carmelita Hartoto, berpendapat bahwa bisnis peti kemas di tanah air tergolong stabil dan pergerakannya berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi nasional.

"Kalau kita lihat memang sektor peti kemas juga tumbuh yang baik, setidaknya sampai April ini tumbuh 7%.

Peningkatan kapasitas dan layanan petikemas tentunya melihat pada kebutuhan dari pertumbuhan tersebut," katanya.

Carmelita Hartoto menambahkan, transformasi terminal konvensional menjadi terminal kontainer berpeluang besar memangkas durasi bongkar muat barang. Pola pengangkutan dengan kontainer jauh lebih efisien dan cepat ketimbang metode konvensional.

Kendati demikian, pihak Apindo mengingatkan bahwa pembenahan pelabuhan saja tidak otomatis memangkas tingginya biaya logistik nasional secara drastis.

Persoalan biaya logistik di Indonesia melibatkan mata rantai yang kompleks, mulai dari moda transportasi darat, tata kelola pelabuhan, sektor pelayaran, pergudangan, hingga proses distribusi akhir ke tangan konsumen.

Kondisi geografis ini berbeda dengan negara kontinental seperti Singapura.

Oleh sebab itu, strategi efisiensi wajib dijalankan secara integratif di setiap lini jika pemerintah serius mengejar target penurunan biaya logistik nasional hingga ke angka 12,5% pada tahun 2029 mendatang.

>>> Harga Emas Dunia Melemah pada 5 Juni 2026 Akibat Ketegangan Timur Tengah

"Jadi memang bicara logistik kita mesti lebih komprehensif, bukan satu dua pos saja secara parsial," ujar Carmelita.