Mereka justru mencari cara yang lebih mudah, yaitu memanipulasi pengguna agar secara sukarela memberikan akses akun, kode OTP, atau informasi pribadi melalui tautan maupun nomor palsu.

Karena itu, literasi keamanan digital harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari masyarakat," ujarnya dalam keterangan, Kamis (4/6/2026).

Menurut William, salah satu taktik yang marak dimanfaatkan adalah eksploitasi mesin pencari internet.

Pelaku menggunakannya untuk memunculkan nomor layanan pelanggan palsu, situs tiruan, maupun tautan berbahaya yang menyerupai akun resmi milik korporasi.

Kondisi ini rawan karena mayoritas pengguna internet cenderung menganggap informasi di halaman pertama mesin pencari sebagai sumber yang valid dan dapat dipercaya.

"Banyak korban merasa aman karena menemukan informasi tersebut melalui mesin pencari. Padahal posisi teratas di hasil pencarian tidak selalu menjamin keaslian suatu informasi.

Karena itu kami mengajak masyarakat untuk tidak hanya mencari, tetapi juga memverifikasi," katanya.

Seruan Literasi Digital

Pelaku industri menggarisbawahi bahwa proteksi keamanan digital tidak bisa sekadar bertumpu pada penguatan sistem teknologi informasi.

Langkah edukasi secara masif kepada para pengguna memegang peranan krusial karena taktik penipuan modern lebih banyak mengeksploitasi sisi psikologis korban.

Masyarakat kini diimbau untuk membangun kebiasaan memverifikasi keaslian alamat situs yang dikunjungi.

>>> Prabowo Subianto Pantau Program Prioritas BPI Danantara

Publik juga diminta tidak gampang mempercayai tautan atau nomor telepon dari mesin pencari, serta selalu menggunakan kanal komunikasi resmi korporasi saat memerlukan bantuan data akun maupun transaksi keuangan.