Pria yang kini menginjak usia 28 tahun tersebut membagikan sejumlah gejala awal yang sempat luput dari perhatiannya.

>>> IHSG Dibuka Menguat 6,7 Poin di Tengah Pelemahan Bursa Asia

Gejala pertama adalah kelelahan kronis yang selalu dirasakannya, namun ia menganggap hal itu normal akibat jadwal kerja yang padat dan intensitas latihan fisik yang tinggi.

Selain itu, ia juga mengalami urine berbusa dengan gelembung yang tidak cepat hilang sebagai indikasi awal adanya kebocoran protein akibat fungsi ginjal terganggu.

Niven juga sempat merasakan nyeri punggung dalam waktu lama yang diduganya hanya cedera otot biasa akibat mengangkat beban atau berlari.

Gejala lainnya adalah kabut otak (brain fog) yang membuat ia kerap kehilangan fokus saat menulis email atau mendadak lupa apa yang sedang dibicarakan di tengah percakapan.

Ketergantungan pada Mesin Dialisis Setiap Malam

Kini hidup Niven berubah total karena setiap malam ia harus terhubung ke mesin dialisis selama sembilan jam saat tidur melalui metode Automated Peritoneal Dialysis (APD).

Sebuah selang khusus dipasang di perutnya untuk menggantikan fungsi ginjal yang telah rusak.

"Setiap bangun tidur, saya harus memeriksa berat badan, memantau tekanan darah, dan minum obat sepanjang hari," tuturnya.

Meskipun masih bisa berolahraga dan berkumpul bersama teman-teman setelah sesi dialisis selesai, tantangan terberat yang dihadapi Niven adalah rasa lelah yang tidak menentu.

Pada beberapa pagi, ia sering kali terbangun dengan tubuh yang luar biasa lemas seperti mengalami hangover berat.

Niven mengaku sempat merasa terisolasi karena mayoritas informasi seputar penyakit ginjal di internet mendeskripsikan pasien usia lanjut.

>>> IHSG Rebound ke 5.844,661 pada 5 Juni 2026, Disokong Sektor Barang Baku

Hal inilah yang mendorongnya untuk aktif membagikan kisahnya di media sosial guna meningkatkan kesadaran anak muda akan pentingnya deteksi dini.