Tekanan besar kembali melanda pasar mata uang kripto global.

Bitcoin (BTC) sebagai aset kripto dengan kapitalisasi terbesar sempat anjlok hingga menyentuh level 60.000 dollar AS per keping pada perdagangan Kamis (4/6/2026) waktu Asia.

>>> AFC Tutup Kasus Dugaan Skandal Naturalisasi Pemain Timnas Malaysia

Nilai penurunan tersebut setara dengan Rp 1,1 miliar jika dikonversi menggunakan kurs Rp 18.048.

Kemerosotan ini membawa Bitcoin kembali mendekati titik terendahnya sepanjang tahun 2026 yang sempat tercatat pada Februari lalu di level 60.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,08 miliar.

Data pasar dari Market Coin Cap menunjukkan pergerakan harga Bitcoin yang sangat fluktuatif.

Setelah sempat menyentuh level 61.351 dollar AS (kira-kira Rp 1,11 miliar), harganya sempat merangkak naik tipis ke kisaran 64.000 dollar AS atau sekitar Rp 1,15 miliar.

Kondisi tidak stabil terus berlanjut dalam hitungan jam ketika harga BTC kembali meluncur ke level 62.000 dollar AS (sekitar Rp 1,12 miliar) sebelum kembali ke area 64.000 dollar AS.

Pada Jumat (5/6/2026) pagi, Bitcoin diperdagangkan di sekitar level 63.420 dollar AS yang setara dengan Rp 1,14 miliar per keping.

Penurunan tajam ini membuat akumulasi koreksi harga Bitcoin mencapai sekitar 30 persen jika dibandingkan dengan posisi pada awal tahun.

Padahal, beberapa bulan sebelumnya, aset digital ini dinilai berada dalam fase pemulihan yang cukup meyakinkan.

Penarikan Dana Besar-besaran dari ETF Bitcoin

Kombinasi berbagai sentimen negatif menjadi pemicu utama ambruknya harga.

Faktor terbesar diyakini berasal dari langkah investor institusi yang ramai-ramai menarik modal mereka dari produk ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat.

Sebagai saluran utama masuknya dana segar dari pemodal besar, ETF Bitcoin memegang peran krusial bagi likuiditas pasar.