CEO CME Group, Terry Duffy, melontarkan kritik tajam terhadap keputusan regulator Amerika Serikat yang mengizinkan perdagangan futures kripto perpetual.

Dalam konferensi Global Exchange & Fintech pada Kamis (4/6), Duffy menyebut produk derivatif tanpa tanggal jatuh tempo itu berpotensi menciptakan risiko baru bagi sistem keuangan.

>>> Brian Uriarte Didiskualifikasi dari Moto3 GP Catalunya 2026, Veda Ega Pratama Diuntungkan

"Ini adalah bencana yang sedang menunggu untuk terjadi," ujar Duffy, seperti dilansir dari sumber internasional.

Ia menilai fungsi utama pasar sebagai sarana pengelolaan risiko mulai tergeser oleh dominasi aktivitas spekulatif.

"Saya percaya pasar telah digantikan oleh pasar spekulasi, dan itu tidak menguntungkan siapa pun," tegasnya.

Kekhawatiran Terhadap Produk Berleverage Tinggi

Pernyataan Duffy muncul setelah Coinbase dan Kalshi mengumumkan peluncuran futures kripto perpetual bulan lalu.

Kedua perusahaan telah mengantongi izin dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC), menjadikannya pertama kalinya produk dengan leverage hingga 50 kali modal tersedia bagi investor AS melalui bursa domestik teregulasi.

>>> Bursa Saham Asia Diprediksi Melemah Akibat Koreksi Sektor AI

Duffy menyoroti mekanisme likuidasi otomatis dan leverage besar yang berisiko bagi investor ritel yang belum memahami biaya pendanaan.

Ia juga mengkritik proses persetujuan CFTC yang dinilainya terlalu cepat untuk instrumen baru dan kompleks.

Meski demikian, Duffy mengakui produk tersebut belum menjadi ancaman besar bagi bisnis CME dalam waktu dekat.

Sekitar 85 hingga 90 persen bisnis CME berasal dari investor institusi yang permintaannya masih terbatas.

>>> Kevin Diks Siap Mentori Matthew Baker di Timnas Indonesia

Komentar ini muncul di tengah tekanan terhadap saham operator bursa seperti CME Group, Cboe, dan Intercontinental Exchange akibat kekhawatiran investor akan munculnya pesaing baru bagi pasar derivatif tradisional.