Prinsip dasar beramal ditegaskan dalam hadits shahih Bukhari yang diriwayatkan oleh Sayyidina Umar bin Khattab RA: "Sesungguhnya amal-amal itu tergantung dengan niatnya."

Abdurrahman bin Abdussalam ash-Shafuriy dalam kitab Nuzhatul Majalis mengutip petuah Syekh Ma'ruf al-Karkhi tentang tiga golongan orang beramal.

Pertama, orang yang beramal karena ingin pahala, ia bagaikan pedagang. Kedua, orang yang beramal karena takut neraka, ia termasuk hamba Allah.

Ketiga, orang yang beramal karena Allah semata, ia adalah orang merdeka.

Menjaga keikhlasan dari sifat riya sangat penting. Sebuah hadits qudsi mengibaratkan ketulusan seperti tangan kanan yang memberi namun tangan kiri tidak mengetahuinya.

Uwais al-Qarni, seorang tokoh shalih, menyatakan bahwa mendoakan saudara tanpa sepengetahuan yang didoakan lebih baik daripada bertemu langsung.

Pertemuan langsung memiliki celah bagi sifat pamer atau riya, sedangkan doa yang dipanjatkan diam-diam menjadi wujud ibadah yang murni.

Secara istilah, ikhlas didefinisikan sebagai memurnikan tujuan taqarrub kepada Allah dari segala hal yang mencampurinya.

>>> PT Merck Tbk Bagikan Dividen Final Rp123,2 Miliar, Yield 9,55%

Dengan memahami makna ikhlas, diharapkan setiap amal ibadah dapat diterima dan dijauhkan dari tipu daya setan.