Pasar kamera saku gimbal yang selama ini dikuasai DJI mendapat tantangan baru. Dua produsen ponsel besar, OPPO dan Vivo, dikabarkan tengah mengembangkan perangkat kamera saku berbasis gimbal.

Kedua perusahaan yang berada di bawah naungan BBK Electronics ini menggunakan sensor gambar Sony LYT-901.

>>> Infinix XBOOK 15 vs Axioo HYPE 7: Duel Laptop Menengah dengan Ryzen 7

Chip CMOS berukuran 1/1,12 inci itu mampu menghasilkan resolusi hingga 200 megapiksel berkat arsitektur Quad-Quad Bayer Color.

Sebagai perbandingan, DJI Osmo Pocket 4 menggunakan sensor 1 inci dengan output maksimal 37MP.

Sensor fisik pada perangkat OPPO dan Vivo memiliki ukuran lebih besar serta menawarkan resolusi spasial lima kali lipat lebih tinggi.

Spesifikasi tersebut memungkinkan zoom 4x lossless tanpa penurunan kualitas gambar.

Kamera ini juga mendukung rekaman video 4K hingga 120fps dalam mode binning serta dynamic range lebih dari 100dB untuk kondisi pencahayaan ekstrem.

Strategi Branding dan Kemitraan Optik

Meskipun satu induk, OPPO dan Vivo menerapkan strategi diferensiasi melalui kemitraan optik. OPPO menggandeng Hasselblad, sementara Vivo bekerja sama dengan Zeiss.

Strategi ini bertujuan memperkuat ekosistem merek masing-masing tanpa bersaing langsung sebagai produk BBK. Pengguna OPPO akan diarahkan memilih Fuyao karena integrasi Hasselblad, sedangkan pengguna Vivo akan memilih Zeiss.

Kreator konten mobile juga didukung fitur transfer instan, pengeditan terintegrasi, serta sistem kontrol jarak jauh melalui smartphone.

>>> 4 Rekomendasi HP Oppo Rp1 Jutaan Terbaik Juni 2026, Ada Layar AMOLED dan Baterai Jumbo

Tantangan Stabilisasi Mekanis dan Perangkat Lunak

Meski unggul di sensor, kamera gimbal membutuhkan sistem stabilisasi matang. DJI telah mendominasi pasar ini selama satu dekade berkat algoritma stabilisasi gerak dan motor gimbal berpresisi tinggi.