Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus merosot dan menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 12.25 WIB, rupiah melemah 72 poin atau 0,40% ke posisi Rp 18.039 per dolar AS.

>>> Rupiah Tembus Rp17.900 per Dolar AS, Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah

Indeks dolar AS justru turun tipis 0,07% ke level 99,458.

Pada pembukaan perdagangan pagi pukul 09.05 WIB, rupiah sudah melemah 37 poin atau 0,21% ke Rp 18.003 per dolar AS.

Konflik Timur Tengah dan Kenaikan Harga Minyak

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan internal.

Dari sisi global, tensi geopolitik di Timur Tengah meningkat, terutama konflik AS-Iran yang kembali memanas.

Ketegangan juga terjadi di Israel dan Lebanon, meskipun kedua pihak menyetujui pembaruan gencatan senjata.

Gejolak politik itu menyebabkan penutupan jalur maritim strategis Selat Hormuz, sehingga harga minyak mentah dunia jenis Brent dan WTI melonjak hingga 20%.

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi global lebih tinggi, memberi ruang bagi bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi.

>>> Maja Chwalińska Tembus Final Roland Garros dan Raih Sponsor Baru

Hal ini mendorong penguatan dolar AS mendekati level 100.

"Kenaikan harga minyak berdampak terhadap biaya transportasi dan logistik, sehingga juga berdampak terhadap inflasi yang membuat bank-bank sentral global memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga tinggi.

Jadi wajar kalau seandainya dolar AS terus mengalami penguatan mendekati level 100," papar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (4/6/2026).

Faktor Domestik Semakin Menekan Rupiah

Tekanan terhadap rupiah juga datang dari dalam negeri. Melambungnya harga minyak global meningkatkan permintaan valuta asing untuk impor minyak.

Ibrahim menguraikan, "Kebutuhan dolar (di dalam negeri) cukup tinggi untuk pembelian impor minyak sebesar 1,5 juta barrel di mana 85% adalah subsidi."

Selain impor energi, faktor musiman seperti pembagian dividen, utang jatuh tempo, dan perpindahan dana tabungan ke valas turut menekan rupiah.

>>> IHSG Ambles 3,48 Persen ke Level Terendah Sepanjang 2026

"Di sisi lain juga adanya pembagian dividen, utang jatuh tempo, serta langkah masyarakat yang memindahkan dana tabungan konvensional ke valuta asing," beber Ibrahim.