Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan menegaskan pentingnya kemandirian energi nasional di tengah krisis Selat Hormuz.

Pernyataan itu disampaikan saat meresmikan fasilitas energi terbarukan di Ankara pada Rabu (4/6/2026).

>>> IHSG Anjlok ke Level Terendah dalam Enam Tahun Terakhir

Blokade de facto di Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia, memicu kekhawatiran global.

Ketegangan geopolitik tersebut memaksa Turkiye segera mencari alternatif logistik guna mengamankan pasokan energinya.

"Penutupan Selat Hormuz mengajarkan kita bahwa keamanan energi adalah masalah kedaulatan nasional," ujar Erdogan.

Pemerintah Turkiye kini berfokus menekan ketergantungan pada pasokan energi dari luar negeri. Posisi geografis negara tersebut dinilai semakin memperkuat perannya sebagai pusat energi krusial di kawasan.

"Kami fokus meningkatkan produksi dalam negeri, mengembangkan sumber energi terbarukan, dan terus mendiversifikasi pasokan untuk meningkatkan efisiensi ekonomi," tambah Erdogan.

>>> Slovenia Ungguli Rekor Pertemuan Jelang Lawan Siprus di Ljubljana

Rencana Jalur Kereta Baru

Kementerian Transportasi dan Infrastruktur Turkiye mengambil langkah taktis mengatasi hambatan logistik pelayaran global. Rencana pembangunan infrastruktur baru tengah disiapkan melalui kerja sama internasional.

Menteri Transportasi dan Infrastruktur Turkiye Abdulkadir Uraloglu mengungkapkan pihaknya merancang jalur kereta api baru bekerja sama dengan Arab Saudi.

Jalur ini dirancang mengikuti rute bersejarah Kereta Api Hejaz dan berpotensi diperpanjang hingga Oman.

Konflik di Selat Hormuz meletus sejak akhir Februari 2026 setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

>>> Pemko Payakumbuh Paparkan Kesiapan Manajemen Talenta ASN di BKN Pusat

Meskipun sempat ada gencatan senjata pada 7 April 2026, kebuntuan perundingan di Islamabad membuat ketegangan belum sepenuhnya mereda.