Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga menyentuh level terendah dalam enam tahun terakhir pada perdagangan sesi I, Kamis (4/6/2026).

Indeks ambruk sebesar 260,49 poin atau 4,38 persen ke posisi 5.687,37. Pergerakan harian berada di rentang 5.685 hingga 5.924.

>>> Slovenia Ungguli Rekor Pertemuan Jelang Lawan Siprus di Ljubljana

Penurunan ini menembus level psikologis 6.000. Angka penutupan sesi pertama menjadi yang terendah sejak November 2020.

Analis menilai kemerosotan ini mencerminkan krisis kepercayaan yang serius di pasar modal. Tekanan utama berasal dari sentimen dalam negeri.

Faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik AS-Iran turut memicu pelemahan karena mendorong harga minyak mendekati US$100 per barel.

Namun, tekanan domestik dinilai lebih dominan.

Kondisi domestik dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah yang melemah mendekati Rp 18.000 per dolar AS.

Kekhawatiran terhadap kebijakan ekonomi nasional dan aksi jual besar-besaran oleh investor asing memperparah situasi.

"Di saat mayoritas bursa Asia justru menguat, kondisi ini menunjukkan tekanan terhadap pasar Indonesia lebih banyak berasal dari faktor domestik dibandingkan eksternal," ujar Analis sekaligus Founder Stocknow, Hendra Wardana.

Hendra menjelaskan bahwa pelaku pasar bergerak berdasarkan persepsi risiko dan prospek ekonomi ke depan.

Kesenjangan terjadi ketika pemerintah mengklaim fundamental ekonomi kuat, tetapi rupiah terus melemah dan asing melakukan aksi jual.

>>> Pemko Payakumbuh Paparkan Kesiapan Manajemen Talenta ASN di BKN Pusat

Aliran dana keluar dari investor asing tercatat mencapai sekitar Rp 864 miliar pada perdagangan Kamis.

Secara kumulatif sejak awal tahun, modal asing yang keluar dari pasar saham Indonesia sudah menembus angka Rp 67 triliun.

Keluarnya modal besar-besaran ini menekan saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang indeks. Pergerakan pasar diperkirakan masih akan bergejolak tinggi.