Musisi Istiqamah Jamaduddin atau Is Pusakata mengungkapkan keengganannya merilis lagu berbahasa asing. Ia mengaku tidak memiliki kedekatan emosional dengan bahasa tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Is Pusakata dalam acara detikpagi, Kamis (4/6/2026). Mantan vokalis Payung Teduh itu memilih fokus menggali kekayaan Bahasa Indonesia dan Melayu.

>>> Florentino Perez Serahkan Masa Depan Nico Paz ke Jose Mourinho

Menurutnya, Indonesia memiliki identitas musik unik yang tidak dimiliki negara lain. Ia enggan mengikuti tren pasar global.

"Kenapa terutama gue juga pribadi, kenapa belum bisa bikin lagu Bahasa Inggris? Karena gue gak dekat dengan itu gitu lho.

Jadi gue gak mau pretensius sebagai sebuah pengkarya," ungkap Is Pusakata.

Kejujuran dalam berkarya menjadi prinsip utama baginya. Inspirasi terbesar dalam penulisan lirik lagu diperoleh dari fenomena kehidupan sehari-hari.

"Gak ada film apa pun yang bisa menggambarkan betapa banyaknya plot twist dalam alur kehidupan manusia," tambahnya.

>>> IHSG 4 Juni 2026 Ditutup Merosot 1,70% ke Level 5.839,78

Kiblat Musik Era 50-an hingga 80-an

Dalam hal referensi musik, Is Pusakata berkiblat pada musisi legendaris era 50-an hingga 80-an. Ia menyebut nama P.

Ramlee, Bing Slamet, hingga Waldjinah.

Ia menilai era tersebut merupakan puncak kejayaan lirik musik tanah air. Kekuatan cara bertutur para musisi menjadi daya tarik utama.

"Mereka bertutur, lekat gitu. Dekat, lekat, bertutur, dan apa adanya.

>>> Arsenal Pantau Julian Alvarez, Atletico Madrid Siapkan Osimhen

Jadi gak dibikin-bikin. Emang tulus aja," pungkas Is Pusakata.