Tren Strava Fridge yang sempat viral di media sosial mendorong banyak orang membuat konten di depan kulkas minimarket.

Ponsel ditaruh di dalam lemari pendingin untuk merekam, lalu pintu kulkas dibuka-tutup seolah mengambil minuman.

>>> Kenali Orang Ber-IQ Tinggi Lewat 10 Pertanyaan Khas Ini

Video tersebut kemudian dilapisi data statistik olahraga dari aplikasi Strava sebelum diunggah. Awalnya menarik, tetapi dampaknya pintu kulkas menjadi semakin sering dibuka-tutup hanya untuk konten.

Dampak pada Suhu dan Kualitas Produk

Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University Prof Dr Ir Epi Taufik menjelaskan bahwa lemari pendingin di minimarket sengaja didesain dengan kaca transparan.

Tujuannya agar pelanggan bisa memilih produk tanpa perlu membuka pintu berlama-lama.

“Kacanya tembus pandang supaya kita milih dulu dan menetapkan dulu, baru buka,” ujarnya. Cara itu menjaga suhu di dalam tetap stabil.

Kebiasaan membuka pintu kulkas lalu melamun memilih produk mungkin sepele jika dilakukan satu orang.

>>> Aries, Taurus, Gemini: Simak Prediksi Keuangan dan Asmara Hari Ini

Namun, jika terjadi berulang kali sepanjang hari oleh puluhan hingga ratusan pelanggan, suhu penyimpanan bisa naik turun.

“Kalau 100 orang? Sampai supermarketnya tutup, pendinginnya bisa naik turun suhunya,” kata Prof Epi.

Udara hangat dari luar masuk setiap kali pintu dibuka, berpotensi memengaruhi kualitas dan keamanan produk.

Di negara lain, imbauan menempel di pintu lemari pendingin agar pelanggan menentukan pilihan sebelum membuka. Hal ini penting untuk menjaga kebersihan dan keamanan pangan.

>>> Kopi Pagi: Kunci Fokus dan Kewaspadaan Sepanjang Hari

Tren Strava Fridge yang marak menjadi perhatian karena berisiko menurunkan kualitas minuman akibat fluktuasi suhu. Konsumen diimbau lebih bijak saat berbelanja di minimarket.