Fenomena Brain Rot Mengintai Anak Muda: Susah Fokus Hingga Komunikasi Pakai Meme
Kebiasaan menghabiskan waktu berjam-jam untuk men-scroll media sosial tidak sekadar membuang waktu. Paparan konten digital berlebihan dapat menurunkan kualitas otak, mulai dari kemampuan fokus, mengingat, hingga berinteraksi.
Fenomena ini dikenal sebagai brain rot, istilah yang populer untuk menggambarkan penurunan fungsi mental akibat konsumsi konten cepat dan dangkal secara terus-menerus.
>>> Bansos Mei 2026: Syarat Ketat dan Pengecekan Mandiri via DTSEN
Perilaku seperti scrolling tanpa henti dan penggunaan meme berlebihan dalam percakapan sehari-hari menjadi ciri khasnya.
Data Menunjukkan Peningkatan Gangguan Kognitif
Studi Universitas Yale pada 2025 menemukan bahwa jumlah orang dewasa muda berusia 18–34 tahun yang mengalami gangguan kognitif—termasuk masalah memori dan konsentrasi—hampir dua kali lipat dalam satu dekade.
Angkanya naik dari 5,1 persen menjadi 9,7 persen.
Psikolog Dr. Julia Kogan menyebutkan tanda utama brain rot adalah ketika aktivitas online mengganggu kehidupan sehari-hari.
Contohnya, tidak bisa tidur karena terpaku pada ponsel atau mengabaikan hubungan nyata demi TikTok.
“Tanda lainnya termasuk kesulitan melepaskan diri dari ponsel dan dorongan terus-menerus memeriksa notifikasi,” ujar Kogan, dikutip dari Verywell Mind pada Kamis (4/6/2026).
“Mata tegang, sakit kepala, atau postur tubuh buruk akibat penggunaan ponsel juga bisa menjadi pertanda terlalu banyak waktu online tanpa istirahat,” tambahnya.
>>> Hasil Investasi Ciputra Life Melonjak 38% pada April 2026, Strategi Fixed Income Jadi Kunci
Dampak pada Anak dan Remaja
Dosen IPB University Dr. Melly Latifah menekankan bahwa dampak brain rot terhadap anak nyata dan memengaruhi perilaku.
Anak bisa sulit konsentrasi, sering lupa instruksi sederhana, bicara patah-patah, atau kosakatanya menyusut.
Secara emosional, mereka bisa tertawa histeris saat online tetapi datar saat diajak bicara. Ada pula yang marah ketika gawainya diambil.
Gejala berbeda muncul sesuai usia. Balita mungkin meniru gerakan absurd yang dilihat.
Anak SD bisa mengalami penurunan nilai drastis. Sementara remaja mulai berkomunikasi dengan bahasa meme.
Para ahli mengingatkan pentingnya membatasi waktu layar dan memberi otak kesempatan istirahat.
>>> Mendag Bocorkan Kenaikan Harga Minyakita, Simak Perkiraan Waktunya
Menjaga keseimbangan antara aktivitas online dan interaksi dunia nyata menjadi kunci mencegah dampak brain rot semakin parah.
Update Terbaru
CEO Jagex Targetkan RuneScape Jadi MMO Nomor Satu, Geser World of Warcraft
Rabu / 22-07-2026, 05:35 WIB
Desainer Quest Cyberpunk 2077: Villa Eurodyne Masih Simpan Banyak Rahasia
Rabu / 22-07-2026, 05:35 WIB
Panduan Manga Musim Panas 2026: Rilis Baru dan Review Volume Pertama
Rabu / 22-07-2026, 05:35 WIB
Jadwal Anime dan Berita Terkini 18-21 Juli 2026
Rabu / 22-07-2026, 05:34 WIB
PYC Ungkap Celah Pengembangan Industri Baterai, Sinkronisasi Kebijakan Jadi Kunci
Rabu / 22-07-2026, 05:34 WIB
Tiket Museum George Lucas Ludes Terjual, Antrean Capai 5 Jam
Rabu / 22-07-2026, 05:34 WIB
Kadek Seina Maputra Juara Starbucks Barista Championship 2026, Siap Wakili Indonesia di Asia Pasifik
Rabu / 22-07-2026, 05:29 WIB
Tersangka Ledakkan Petasan di Depan Gedung Federal New York, Tiga Terluka
Rabu / 22-07-2026, 05:29 WIB
Konflik AS-Iran di Hormuz: Peluang bagi Rusia dan China di Asia Tenggara
Rabu / 22-07-2026, 05:28 WIB
Milania Giudice Tari Bareng Adik yang Laporkan ke Polisi
Rabu / 22-07-2026, 05:28 WIB
Kuda Pacu Adan Banuelos Kaget Tahu Bella Hadid Single
Rabu / 22-07-2026, 05:28 WIB
Dustin Poirier: Bud Langsung Putus Kontrak Usai Penangkapan
Rabu / 22-07-2026, 05:28 WIB
Ibu Nolan Wells Ajukan Permohonan Hukum untuk Tuntut Kematian Putranya
Rabu / 22-07-2026, 05:28 WIB
Gagal di Piala Dunia 2026, Rudi Garcia Pastikan Berpisah dengan Belgia
Rabu / 22-07-2026, 05:24 WIB







