Di Surakarta, tingkat kemantapan jalan menurun drastis dari 94 persen menjadi 68 persen. Banyak ditemukan kerusakan retak yang perlu segera ditangani agar tidak semakin parah.

Meski anggaran terbatas, PUPR memastikan perbaikan tetap berjalan menggunakan APBD 2026. Saat ini sedang dibahas kemungkinan tambahan dana dari APBD Perubahan untuk menambah daya dukung.

Henggar menyatakan bahwa dari total seluruh jalan provinsi, persentase kerusakan tidak sampai 50 persen. Hal ini diharapkan dapat menjadi optimisme di tengah keterbatasan.

Dari segi teknis, PUPR cenderung menggunakan metode overlay atau pengaspalan ulang dibanding konstruksi beton. Metode ini dinilai lebih efisien dari segi biaya dan waktu pengerjaan.

Meski menggunakan aspal, perhitungan beban dan kebutuhan material tetap dilakukan secara cermat. Tujuannya agar jalan memiliki daya tahan yang baik dan tidak cepat rusak kembali.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, memberikan dukungan penuh terhadap upaya revitalisasi jalan. Ia akan mengarahkan pokok-pokok pikiran (pokir) dalam anggaran perubahan untuk difokuskan pada perbaikan infrastruktur jalan.

Luthfi menyadari masih banyak ruas jalan provinsi yang perlu direvitalisasi.

>>> Just Fontaine dan 13 Gol Abadi: Mengapa Rekor Itu Begitu Sulit Dikejar?

Dengan sinkronisasi antara pemerintah daerah dan legislatif, diharapkan kemantapan jalan di Jawa Tengah dapat kembali meningkat secara bertahap.