Bank Indonesia melalui Museum Bank Indonesia kembali menghadirkan pameran bertajuk "Iŋ Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi".

Pameran yang dibuka pada Rabu (3/6/2026) ini mengangkat kisah wayang orang dalam perjalanan sejarah ekonomi Indonesia, khususnya terkait bank sentral dan mata uang.

>>> NBA Finals 2026: Brunson Cedera tapi Heroik, Knicks Tundukkan Spurs 105-95

Wayang orang menjadi saksi bisu perekonomian dari masa ke masa.

Wayang Orang: Hiburan di Tengah Krisis

Wayang orang awalnya bersifat sakral dan hanya dinikmati kalangan keraton. Seorang Tionghoa bernama Gan Kam berhasil mengkomersialisasikannya sehingga akses terbuka untuk masyarakat luas.

Perubahan ini membuka jalan bagi wayang orang menjadi hiburan rakyat.

Pada masa krisis ekonomi 1930-an, wayang orang justru menjadi hiburan yang dinantikan.

Tim kurator pameran mencatat, di tengah tekanan ekonomi seperti PHK dan menurunnya daya beli, pertunjukan wayang orang mengalami peningkatan peminat.

Bagi masyarakat, wayang menjadi sarana melepas penat. Bagi pelaku pertunjukan, peningkatan minat menjadi sumber pendapatan untuk bertahan.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda memanfaatkan popularitas wayang orang.

De Javasche Bank mencetak uang kertas bergambar wayang orang untuk menunjukkan keberpihakan di tengah krisis dan mengangkat identitas budaya lokal.

>>> Peringkat Dunia Bukan Segalanya: Jonatan vs Alwi Berebut Tiket Perempat Final

Koleksi uang kertas tersebut kini dipamerkan sebagai bukti sejarah. Langkah ini menjadi strategi untuk meredakan ketegangan sosial akibat kesulitan ekonomi.

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Sani Eka Duta, mengatakan pelestarian wayang orang menjadi semakin penting di tengah modernisasi.

"Bank Indonesia merasa perlu ikut menjaga dan memperkenalkan kembali budaya yang telah menjadi bagian panjang sejarah Indonesia," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya memperkenalkan wayang orang kepada generasi muda.

Pameran ini juga menampilkan kesenian pendukung wayang hasil kerja sama dengan Keraton Yogyakarta dan Mangkunegaran.

Gusti Kanjeng Ratu Bendara mewakili Keraton Yogyakarta mengungkapkan, pameran ini unik karena mengkorelasikan sejarah mata uang dengan budaya.

"Harapannya, generasi muda bisa mendapatkan sejarah dari beberapa sisi," katanya.

Pameran berlangsung dari 3 Juni hingga 30 Agustus 2026 di Museum Bank Indonesia. Selain pameran utama, tersedia workshop seni, walking tour, crafting workshop, treasure hunt, dan story telling.

>>> Veda Ega Kejar Selisih Satu Poin di Moto3 Hungaria 2026

Informasi jadwal kegiatan pendukung akan diumumkan melalui media sosial Museum Bank Indonesia. Kegiatan tersebut diadakan secara berkala selama periode pameran.