Memiliki rumah pribadi masih menjadi impian besar mayoritas generasi milenial di Indonesia. Namun, lonjakan harga properti yang tidak sebanding dengan kenaikan pendapatan membuat impian itu semakin sulit digapai.

Tingginya suku bunga kredit juga menambah beban cicilan bulanan.

>>> Jemaah Haji Asal Jember Meninggal Dunia Saat Tidur di Mekkah

Kondisi ini mirip dengan hasil survei di Amerika Serikat, di mana banyak anak muda mulai mengurungkan niat membeli hunian.

Tantangan Keterjangkauan Hunian

Berdasarkan data Home Affordability Survey 2025 dari Bankrate, banyak calon pembeli gagal menemukan rumah yang sesuai kapasitas finansial.

Akibatnya, satu dari enam orang menyerah mencari hunian dalam lima tahun terakhir.

Di Indonesia, tantangan keterjangkauan hunian juga mengkhawatirkan. Laporan The Economist menempatkan Indonesia dalam daftar negara dengan harga rumah paling tidak terjangkau di dunia.

Indonesia menempati posisi keenam secara global dalam indeks ketidakterjangkauan hunian. Posisi ini berada di bawah Filipina, Sri Lanka, Thailand, India, dan Korea Selatan.

Realitas Milenial di Tengah Tekanan Ekonomi

Abel Anita, warga Jakarta berusia 33 tahun, mengakui rumah tetap menjadi target hidup. Namun, kondisi ekonomi yang menantang memaksanya bersikap lebih realistis.

Menurut Abel, banyak masyarakat kini lebih memilih mengontrak rumah demi mengamankan arus kas. Langkah ini diambil agar bisa terus menabung atau berinvestasi sambil menunggu momentum finansial yang tepat.

Ia berpendapat penghasilan bulanan Rp8 juta hingga Rp10 juta adalah ambang batas minimal untuk mencicil rumah. Namun, tingginya biaya kebutuhan pokok tetap menjadi penghalang utama mengumpulkan uang muka.

>>> Jadwal SCTV Terbaru: Sinopsis Istiqomah Cinta 3 Juni 2026, Rahasia Besar Terbongkar

Sistem bunga mengambang (floating rate) pada KPR juga menjadi momok. Ketidakpastian nilai cicilan setiap tahun sering memaksa pemilik rumah menjual properti karena tidak sanggup membayar.