7 Kepribadian Orang yang Hobi Stalking Menurut Psikologi
Di era keterbukaan informasi media sosial, mencari tahu kehidupan orang lain menjadi sangat mudah. Namun, kebiasaan memantau secara intens dan berulang bisa berujung pada stalking atau penguntitan.
Perilaku ini memicu pertanyaan tentang profil kepribadian pelakunya. Memahami alasan di balik stalking penting karena bukan sekadar rasa penasaran biasa.
>>> Kejutan Indonesia Open 2026: Fajar/Fikri Langsung Gugur di Babak Pertama
Mengapa Seseorang Menjadi Stalker?
Setiap tindakan manusia memiliki latar belakang. Di balik stalking, biasanya ada dorongan emosional, pola pikir tertentu, hingga pengalaman hidup.
Dalam perspektif psikologi, tindakan ini sering berakar dari kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Hal ini bukan hanya masalah bagi pelaku, tetapi juga ancaman bagi keamanan dan kenyamanan mental korban.
Dampak penguntitan bisa sangat merusak, mulai dari rasa takut hingga trauma. Mengenali ciri kepribadian pelaku adalah langkah awal untuk meningkatkan kewaspadaan sosial.
Karakteristik Kepribadian Pelaku Stalking
Berdasarkan data dari Mind the Graph, aktivitas stalking mencerminkan kondisi psikis yang kompleks. Berikut ciri-ciri kepribadian yang umum ditemukan pada pelaku stalking.
>>> Gema 'Ea Ea' di Istora Senayan 2026, Senjata Rahasia Atlet Raih Juara
- Kecenderungan Obsesif Tinggi: Pelaku sulit mengalihkan fokus dari target. Mereka menghabiskan waktu berlebihan untuk memikirkan atau memantau informasi tentang orang tersebut di berbagai platform.
- Sulit Menerima Penolakan: Penolakan dianggap ancaman terhadap harga diri. Hal ini memicu mereka terus berusaha mempertahankan koneksi yang sebenarnya sudah berakhir atau tidak pernah ada.
- Haus Akan Kontrol: Ada keinginan kuat mengendalikan situasi dan kehidupan orang lain. Dengan memantau aktivitas korban, pelaku merasa memiliki kendali penuh.
- Minim Pemahaman Batasan Sosial: Pelaku sering tidak menyadari garis antara perhatian dan gangguan privasi. Mereka menganggap tindakan obsesif sebagai bentuk kasih sayang, meskipun menakutkan bagi orang lain.
- Tingkat Empati Rendah: Mereka cenderung mengabaikan perasaan korban dan hanya fokus pada keinginan pribadi. Meski korban sudah terganggu, pelaku sering tetap tidak peduli.
- Terjebak dalam Dunia Fantasi: Banyak stalker membangun narasi palsu dalam pikiran. Contohnya keyakinan bahwa korban memiliki perasaan yang sama, padahal kenyataannya sebaliknya.
- Rasa Percaya Diri Rendah: Di balik tindakan agresif, banyak pelaku merasa tidak aman secara emosional. Mereka mencari pengakuan atau validasi dengan cara yang salah.
Update Terbaru
Peta Backrooms Buatan Warga Jadi Panduan Ruang Liminal di Korea
Rabu / 03-06-2026, 23:21 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Kaget Eks Kepala BGN Dadan Jadi Tersangka Korupsi
Rabu / 03-06-2026, 23:20 WIB
Ji Chang-wook Didenda Miliaran Won, Agensi Beri Klarifikasi Soal Pajak
Rabu / 03-06-2026, 23:20 WIB
Lada Niva Legend 2026: Airbag Pertama dan Body Anti Karat
Rabu / 03-06-2026, 23:16 WIB
RUU P2SK: Rekomendasi DPR ke BI-OJK-LPS Bersifat Mengikat pada 2026
Rabu / 03-06-2026, 23:15 WIB
Dadan Jadi Tersangka Korupsi MBG 2026, Purbaya: Laporan Juga dari Kita
Rabu / 03-06-2026, 23:15 WIB
Bintang How I Met Your Mother Tikam Pacar, Divonis 32 Tahun Penjara
Rabu / 03-06-2026, 23:11 WIB
Rupiah Nyaris Rp18.000 per Dolar AS, Konflik Timur Tengah Picu Efek Mengejutkan 2026
Rabu / 03-06-2026, 23:10 WIB
Klaim Kesehatan Asuransi Jiwa Tembus Rp 6,72 Triliun, Terbukti Aman Cair Cepat
Rabu / 03-06-2026, 23:10 WIB
Biji Kopi Lokal Murah Ini Hadirkan Cita Rasa Cafe Premium di Rumah
Rabu / 03-06-2026, 23:06 WIB
GOTO Buka Suara soal Saham Dibekukan MSCI dan FTSE Russell 2026, Ini Faktanya
Rabu / 03-06-2026, 23:05 WIB
5 Rekomendasi Tablet 1 Jutaan Terbaik 2026, Spek Gahar dan Baterai Awet
Rabu / 03-06-2026, 23:05 WIB
Kenali Jenis Cat Kuku Beserta Perbedaannya Agar Tidak Merusak Struktur Alami
Rabu / 03-06-2026, 23:00 WIB
Menteri UMKM Ungkap Alasan PT dan CV Tak Lagi Dapat PPh Final 0,5% Mulai 2026
Rabu / 03-06-2026, 23:00 WIB






