Di era keterbukaan informasi media sosial, mencari tahu kehidupan orang lain menjadi sangat mudah. Namun, kebiasaan memantau secara intens dan berulang bisa berujung pada stalking atau penguntitan.

Perilaku ini memicu pertanyaan tentang profil kepribadian pelakunya. Memahami alasan di balik stalking penting karena bukan sekadar rasa penasaran biasa.

>>> Kejutan Indonesia Open 2026: Fajar/Fikri Langsung Gugur di Babak Pertama

Mengapa Seseorang Menjadi Stalker?

Setiap tindakan manusia memiliki latar belakang. Di balik stalking, biasanya ada dorongan emosional, pola pikir tertentu, hingga pengalaman hidup.

Dalam perspektif psikologi, tindakan ini sering berakar dari kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.

Hal ini bukan hanya masalah bagi pelaku, tetapi juga ancaman bagi keamanan dan kenyamanan mental korban.

Dampak penguntitan bisa sangat merusak, mulai dari rasa takut hingga trauma. Mengenali ciri kepribadian pelaku adalah langkah awal untuk meningkatkan kewaspadaan sosial.

Karakteristik Kepribadian Pelaku Stalking

Berdasarkan data dari Mind the Graph, aktivitas stalking mencerminkan kondisi psikis yang kompleks. Berikut ciri-ciri kepribadian yang umum ditemukan pada pelaku stalking.

>>> Gema 'Ea Ea' di Istora Senayan 2026, Senjata Rahasia Atlet Raih Juara

  • Kecenderungan Obsesif Tinggi: Pelaku sulit mengalihkan fokus dari target. Mereka menghabiskan waktu berlebihan untuk memikirkan atau memantau informasi tentang orang tersebut di berbagai platform.
  • Sulit Menerima Penolakan: Penolakan dianggap ancaman terhadap harga diri. Hal ini memicu mereka terus berusaha mempertahankan koneksi yang sebenarnya sudah berakhir atau tidak pernah ada.
  • Haus Akan Kontrol: Ada keinginan kuat mengendalikan situasi dan kehidupan orang lain. Dengan memantau aktivitas korban, pelaku merasa memiliki kendali penuh.
  • Minim Pemahaman Batasan Sosial: Pelaku sering tidak menyadari garis antara perhatian dan gangguan privasi. Mereka menganggap tindakan obsesif sebagai bentuk kasih sayang, meskipun menakutkan bagi orang lain.
  • Tingkat Empati Rendah: Mereka cenderung mengabaikan perasaan korban dan hanya fokus pada keinginan pribadi. Meski korban sudah terganggu, pelaku sering tetap tidak peduli.
  • Terjebak dalam Dunia Fantasi: Banyak stalker membangun narasi palsu dalam pikiran. Contohnya keyakinan bahwa korban memiliki perasaan yang sama, padahal kenyataannya sebaliknya.
  • Rasa Percaya Diri Rendah: Di balik tindakan agresif, banyak pelaku merasa tidak aman secara emosional. Mereka mencari pengakuan atau validasi dengan cara yang salah.