ITSEC Asia: Indonesia Hadapi 182 Serangan Siber per Detik Sepanjang 2025
Kondisi keamanan siber di Indonesia semakin tertekan.
Perusahaan keamanan siber PT ITSEC Asia Tbk mengungkapkan bahwa Indonesia menghadapi rata-rata 182 percobaan serangan digital setiap detik sepanjang 2025.
>>> KPop Demon Hunters Naik Satu Peringkat di Netflix Global Pekan ke-50
Angka tersebut merujuk pada data yang dihimpun Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menjelaskan bahwa lesunya perekonomian global tidak menghentikan kejahatan siber.
Para pelaku justru memanfaatkan kelengahan perusahaan yang mulai memangkas anggaran pertahanan digital. Menurut Patrick, Indonesia kini berada pada fase krusial transformasi digital nasional.
Ancaman Siber Makin Masif
Berdasarkan catatan BSSN, terdapat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik yang melanda Indonesia selama Januari hingga November 2025.
Tingginya angka serangan menempatkan Indonesia pada posisi ke-12 di kawasan Asia Pasifik dalam tingkat aktivitas ancaman siber.
Sektor keuangan, energi, telekomunikasi, hingga pemerintahan menjadi target utama. ITSEC Asia memandang situasi ini sebagai bukti bahwa sistem keamanan digital telah bergeser menjadi infrastruktur strategis.
Kondisi diperparah oleh perlambatan ekonomi global yang memicu efisiensi anggaran TI di berbagai korporasi. Meski banyak perusahaan mengerem pengeluaran, kejahatan siber justru terus melonjak.
Gartner memproyeksikan total belanja keamanan informasi global mencapai USD213 miliar pada 2025, meski laju pertumbuhan melambat ke angka 4 persen.
Fenomena ini menegaskan bahwa proteksi digital tetap menjadi prioritas utama. Langkah pencegahan sangat mendesak untuk menghindari risiko kebocoran data, pencurian identitas, hingga kelumpuhan infrastruktur kritikal.
Peran Perusahaan Lokal dan Solusi AI
Dalam situasi penuh ancaman ini, peran perusahaan penyedia keamanan siber lokal dinilai kian strategis.
ITSEC Asia kini berfokus mematangkan sistem pertahanan digital terintegrasi yang terbebas dari ketergantungan rantai pasok luar negeri.
Update Terbaru
Pelemahan Harga Emas Berlanjut, Emiten Diminta Waspada
Kamis / 11-06-2026, 20:41 WIB
Daftar Selebriti Korea yang Putus Setelah Pacaran Lama
Kamis / 11-06-2026, 20:36 WIB
Cara Mengaktifkan Kembali Kartu BPJS Kesehatan PBI yang Dinonaktifkan
Kamis / 11-06-2026, 20:33 WIB
Volkswagen Kritik Kebijakan Larangan Mobil Bensin di Berbagai Negara
Kamis / 11-06-2026, 20:32 WIB
Manchester United Kesulitan Jual Andre Onana karena Gaji Tinggi
Kamis / 11-06-2026, 20:32 WIB
Studi Sun Life: 80% Masyarakat Tertekan Biaya Hidup, Ketahanan Finansial Belum Merata
Kamis / 11-06-2026, 20:32 WIB
Menteri Keuangan Respons Ajakan Boikot Pertamax ke Pertalite di Medsos
Kamis / 11-06-2026, 20:32 WIB
Trump Ancam Serang Iran dan Kuasai Industri Minyak
Kamis / 11-06-2026, 20:31 WIB
Nova Arianto Langsung Turunkan Mathew Baker Sejak Awal Lawan Australia
Kamis / 11-06-2026, 20:29 WIB
Chevrolet Gunakan AI untuk Desain C9 Corvette, Tapi Bukan yang Ini
Kamis / 11-06-2026, 20:29 WIB
Nova Arianto Turunkan Mathew Baker sebagai Starter Lawan Australia
Kamis / 11-06-2026, 20:29 WIB
Pasar Obligasi Korporasi Dinilai Lebih Menguntungkan Investor
Kamis / 11-06-2026, 20:28 WIB
Pemerintah Antisipasi Peralihan Konsumen dari Pertamax ke Pertalite
Kamis / 11-06-2026, 20:28 WIB
QJMotor Indonesia Luncurkan Program Trip Eksklusif ke China di PRJ 2026
Kamis / 11-06-2026, 20:28 WIB






