Keinginan untuk berhenti merokok sering kali gagal di tengah jalan.

Data menunjukkan bahwa mayoritas perokok aktif ingin lepas dari ketergantungan tembakau, namun indeks keberhasilannya di Indonesia masih sangat rendah, yakni hanya 10 persen.

>>> Bintang Timnas Swiss Dilarang Masuk AS Jelang Piala Dunia 2026, Ini Penyebabnya

Menurut Survei Kesehatan Indonesia (SKI), jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 70 juta orang.

Dari jumlah tersebut, 7,4 persen di antaranya adalah anak dan remaja usia 10-18 tahun.

Rata-rata penduduk menghisap 12 batang rokok per hari. Sementara itu, penggunaan rokok elektronik meningkat pesat di kalangan remaja.

Fase Kritis Berhenti Merokok

Direktur Utama RSUP Persahabatan sekaligus Penasehat Pengurus Harian Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.

P(K). , MHPM.

, FISR. , FAPSR.

, menegaskan bahwa tantangan terbesar adalah mengatasi adiksi nikotin dan fase withdrawal.

"Studi menunjukkan sebenarnya cukup banyak orang yang mau berhenti merokok, tetapi 9 dari 10 orang gagal," kata Prof. Agus dalam acara Kampanye #SehatTanpaRokok 2026 oleh Kemenkes di Jakarta Selatan, Rabu (3/6/2026).

Secara medis dan psikologis, seseorang tidak bisa berhenti merokok secara instan. Penanganan pasien disesuaikan berdasarkan tingkat adiksi dan dibagi ke dalam fase transisi.

Fase pertama adalah pra-kontemplasi, di mana perokok belum memiliki kesadaran atau minat untuk berhenti. Mereka cenderung menyangkal dampak buruk rokok.

>>> Egy Maulana Vikri Optimis dengan Era John Herdman di Timnas Indonesia

Fase kedua adalah kontemplasi, saat perokok mulai menyadari kerugian merokok bagi kesehatan, ekonomi, dan keluarga.

Muncul niat untuk berhenti dalam 6 bulan ke depan, namun masih ragu karena takut efek ketergantungan.