Pada April 2026, mereka menjual 187 ribu unit kendaraan, naik 35 persen dibanding April tahun sebelumnya.

>>> Kemdiktisaintek Izinkan Kampus Dirikan SPPG, Ini Syaratnya

Total penjualan bulanan Maruti Suzuki mencetak rekor sejarah di angka 239 ribu unit.

Tantangan Honda

Honda Motor Company justru menghadapi masa-masa menantang. Mereka melaporkan kerugian operasional tahunan untuk pertama kalinya sejak melantai di bursa saham pada 1957.

Menurut Nikkei Asia, kesalahan strategi menjadi faktor utama.

Beberapa penyebab kerugian finansial Honda antara lain kesalahan strategi penetrasi pasar kendaraan listrik (EV), beban restrukturisasi global, penurunan nilai investasi di sektor EV, dan besarnya modal riset EV tanpa hasil penjualan sebanding.

Kegagalan mengeksekusi rencana transisi ke kendaraan listrik membuat beban finansial membengkak.

Estimasi kerugian operasional mencapai 400 miliar yen atau setara Rp 44,8 triliun pada penutupan tahun fiskal 2025 (Maret 2026).

Total beban terkait lini bisnis EV Honda menyentuh US$ 9 miliar atau setara Rp 148 triliun.

Tekanan finansial memaksa Honda mengubah haluan. Mereka mengurangi agresivitas di segmen mobil listrik murni dan kembali memperkuat lini kendaraan hybrid.

CEO Honda, Toshihiro Mibe, dikabarkan membatalkan target jangka panjang terkait mobil listrik. Sebelumnya, Honda menargetkan mobil listrik menyumbang 20 persen penjualan global pada 2030.

Dengan pembatalan target tersebut, Honda ingin bermain lebih aman dan fokus pada teknologi matang. Strategi ini diharapkan memulihkan kesehatan finansial perusahaan dalam beberapa tahun ke depan.

Fenomena ini menunjukkan betapa dinamisnya kompetisi industri otomotif dunia. Strategi pasar lokal seperti di India bisa mengubah peta kekuatan global.

>>> Alasan Timnas U-19 Timor Leste Tiba Lebih Awal di Medan Terungkap

Suzuki kini menikmati buah konsistensi mereka di pasar Asia Selatan.