Nilai tukar rupiah mengalami tekanan cukup dalam pada penutupan perdagangan Rabu (3/6) sore. Mata uang Indonesia ini berakhir di angka Rp17.966 per dolar AS.

Pelemahan sebesar 128 poin atau setara dengan 0,71 persen dari posisi penutupan sebelumnya. Tren negatif ini tidak hanya dialami oleh rupiah semata.

>>> Cara Cek Desil DTKS dan Status Bansos 2026 Terbaru Lewat HP, Resmi dan Cepat Cair

Hampir sebagian besar mata uang di kawasan Asia turut menunjukkan performa lesu di hadapan dolar AS. Beberapa mata uang tetangga bahkan mencatatkan depresiasi yang cukup signifikan.

Performa Mata Uang Asia

  • Yuan China: Melemah 0,14 persen.
  • Peso Filipina: Melemah 0,12 persen.
  • Ringgit Malaysia: Melemah 0,79 persen.
  • Dolar Singapura: Melemah 0,18 persen.
  • Won Korea Selatan: Melemah 0,92 persen.
  • Yen Jepang: Menguat 0,14 persen.
  • Dolar Hong Kong: Menguat tipis 0,01 persen.

Data di atas memperlihatkan bahwa mayoritas mata uang di wilayah Asia berada di zona merah. Hanya Yen Jepang dan dolar Hong Kong yang mampu bertahan dan menguat tipis.

Penyebab Pelemahan Rupiah

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa merosotnya rupiah dipicu oleh kekhawatiran pasar atas konflik di Timur Tengah.

Ketegangan tersebut berisiko mengganggu stabilitas pasokan energi dunia.

Ketidakpastian dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran juga menjadi faktor yang diperhatikan oleh pelaku pasar. Hal ini membuat investor cenderung memilih aset yang lebih aman.

Selain faktor geopolitik, kondisi ekonomi domestik AS yang tetap solid turut memperkuat posisi dolar.

Data yang kuat memberikan alasan bagi Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lama.

Dari sisi domestik, kenaikan inflasi tahunan Indonesia pada Mei 2026 yang mencapai 3,08 persen memberikan tekanan tambahan.