Jakarta saat ini tengah berada dalam kondisi darurat sampah yang mengkhawatirkan.

Fenomena ini tercermin dari kejadian unik ketika seorang anggota legislatif di Jakarta Selatan bertanya kepada petugas kebersihan mengenai tumpukan batang pohon hasil pemangkasan.

>>> Resmi, Ini Alasan Mengejutkan di Balik Penutupan 122 Prodi Selama 2026

Petugas tersebut menjelaskan bahwa sisa-sisa pohon itu harus dibuang ke TPST Bantargebang di Bekasi.

Hal ini menunjukkan sistem pengelolaan sampah ibu kota masih sangat bergantung pada daerah penyangga meskipun jaraknya cukup jauh.

Kisah ini mengingatkan pada pepatah lama dari sastrawan Inggris abad ke-19, Hector Urquhart.

Dalam pengantar bukunya, ia menyinggung bagaimana sebuah benda bisa memiliki nilai yang berbeda bagi setiap orang.

Istilah tersebut kini populer dengan ungkapan "one man's trash is another man's treasure".

Secara sederhana, sampah bagi seseorang bisa menjadi harta karun bagi orang lain yang mampu melihat peluangnya.

Sayangnya, kesadaran semacam ini masih minim di tengah masyarakat Jakarta. Padahal, berbagai jenis limbah seperti plastik, kain, kayu, hingga sisa makanan bisa diolah kembali menjadi produk bermanfaat.

Jika dikelola dengan tepat melalui daur ulang atau kompos, sampah tersebut tidak akan berakhir sia-sia. Tekanan keadaan tampaknya akan segera memaksa perubahan pola pikir warga ibu kota.

Kondisi Kritis TPST Bantargebang

TPST Bantargebang kini sudah tidak mampu lagi menampung beban sampah Jakarta yang volumenya terus meroket.

Lokasi yang disebut sebagai tempat pembuangan sampah terbesar di Asia Tenggara ini berada dalam titik nadir daya tampungnya.

Berdasarkan data statistik, beban sampah harian terus mengalami peningkatan drastis sejak satu dekade terakhir. Peningkatan ini menjadi sinyal merah bagi keberlangsungan sistem sanitasi di Jakarta dan sekitarnya.