Di posisi berikutnya, Generasi X memiliki tingkat keputusasaan sebesar 17 persen. Sementara itu, Generasi Z dan Baby Boomer masing-masing mencatatkan angka yang sama, yakni 12 persen.

Kondisi di Indonesia tidak jauh berbeda, di mana harga hunian masuk dalam kategori paling tidak terjangkau secara global.

Hal ini disebabkan oleh jurang lebar antara pertumbuhan pendapatan dengan kenaikan harga properti.

Menurut The Economist, Indonesia berada di urutan keenam negara dengan tantangan properti terberat di dunia. Peringkat pertama ditempati Filipina, disusul Sri Lanka, Thailand, India, dan Korea Selatan.

Laporan The Economist juga menegaskan bahwa masalah utama di negara-negara Asia bukan sekadar harga yang mahal.

Persoalan krusialnya terletak pada kecepatan kenaikan harga rumah yang tidak sebanding dengan kenaikan gaji rata-rata warga.

>>> Ayah Pelaku Sujud Minta Maaf! Usai Mahasiswa PNJ Terciduk Berciuman di Perpustakaan

Selain masalah finansial, ketidakseimbangan antara tingginya permintaan dan minimnya stok rumah baru turut memperparah keadaan. Hal ini menciptakan persaingan harga yang semakin tidak sehat bagi pembeli rumah pertama.