Banyak generasi milenial kini bersikap realistis dan mulai menyerah untuk memiliki hunian pribadi. Krisis properti dalam lima tahun terakhir membuat impian itu semakin sulit diraih.

Laporan terbaru Bankrate bertajuk Home Affordability Survey 2025 mengungkapkan rasa putus asa yang mendalam di kalangan anak muda.

>>> Ji Chang Wook Tak Terbukti Gelap Pajak, Agensi Ungkap Fakta Mengejutkan

Faktor ekonomi menjadi penghalang utama bagi mereka.

Krisis Keterjangkauan Hunian Semakin Nyata

Data menunjukkan sekitar 16 persen calon pembeli rumah di Amerika Serikat gagal menemukan properti sesuai anggaran. Periode sulit ini berlangsung konsisten antara 2020 hingga 2025.

Kondisi ini memaksa sebagian besar dari mereka menghentikan pencarian dan memilih tidak membeli rumah. Tekanan pasar yang berat menjadi alasan utama di balik keputusan tersebut.

Analis keuangan Bankrate, Stephen Kates, menjelaskan bahwa kemampuan masyarakat membeli rumah saat ini berada pada titik terendah dalam beberapa dekade.

Masalah ini merupakan dampak dari berbagai faktor ekonomi yang saling berkaitan.

Beberapa faktor utama yang memperburuk situasi pasar properti saat ini meliputi:

  • Lonjakan harga rumah yang terus meroket di berbagai wilayah.
  • Terbatasnya ketersediaan atau pasokan unit rumah di pasar.
  • Tingginya suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang membebani cicilan.

Kombinasi faktor di atas menjadi alasan kuat mengapa satu dari enam pembeli rumah memilih menyerah.

Tren ini paling terlihat pada kelompok usia tertentu yang terdampak langsung oleh ketidakpastian ekonomi.

>>> Mengenang Piala Dunia 2010: Sejarah Afrika dan Kejutan La Roja yang Melegenda

Milenial Jadi Generasi Paling Putus Asa

Jika dilihat berdasarkan kategori usia, generasi milenial menempati urutan tertinggi dalam rasa putus asa memiliki hunian. Angkanya mencapai 22 persen, jauh melampaui kelompok generasi lainnya.