AS Gunakan Sistem Madis untuk Rontokkan Drone Lawan Tanpa Rudal Mahal
Militer Amerika Serikat mengembangkan sistem baru untuk mengatasi ancaman drone tanpa harus menggunakan rudal konvensional yang mahal. Sistem tersebut bernama Marine Air Defense Integrated System atau Madis.
Langkah ini diambil karena biaya produksi rudal pertahanan bisa mencapai 10 kali lipat lebih mahal daripada harga drone target.
>>> Nvidia Luncurkan Superchip RTX Spark untuk Laptop Windows di Computex 2026
Dilema ini nyata terjadi dalam konflik Iran, saat drone Shahed membanjiri pertahanan udara dan memaksa militer AS menembakinya dengan rudal berbiaya tinggi.
Madis: Solusi Hemat Biaya
Korps Marinir AS kini mengandalkan sistem Madis yang diproduksi oleh Kongsberg Defence & Aerospace. Sistem ini terdiri dari dua unit kendaraan taktis Joint Light Tactical Vehicles (JLTV), penerus Humvee.
Satu kendaraan dibekali radar khusus untuk melacak target objek terbang seperti pesawat tanpa awak. Selain radar, teknologi ini juga dilengkapi kemampuan perang elektronik yang mampu mengacaukan sinyal musuh.
Untuk serangan cepat, Madis mengintegrasikan sensor canggih dan senapan rantai XM914 30mm buatan Northrop Grumman.
Amunisi pada senapan tersebut dirancang khusus untuk meningkatkan efektivitas tembakan terhadap target udara berukuran kecil.
Sistem ini juga tetap menyediakan opsi rudal Stinger untuk menghadapi ancaman yang lebih besar.
>>> Alasan Sutradara di Balik Nasib Akhir Zendaya di Euphoria Season 3
Alternatif Lebih Murah
Di Timur Tengah, militer AS dan negara Teluk sebelumnya mengerahkan helikopter serta pesawat bersenjata untuk menjatuhkan drone Iran.
Namun, operasi tersebut masih bergantung pada rudal udara-ke-udara yang mahal, seperti AIM-120 yang harganya mencapai USD 1 juta per unit.
Kehadiran Madis memberikan fleksibilitas bagi komandan militer di lapangan.
Mereka dapat memilih opsi terbaik, mulai dari senapan, rudal, hingga perang elektronik, untuk melindungi pasukan tanpa menguras anggaran pertahanan.
Meski lebih murah, produsen pertahanan AS masih menghadapi tantangan dalam memproduksi peluru senapan khusus dalam jumlah memadai di masa depan.
"Ada begitu banyak jenis drone di luar sana, Anda tidak tahu persis apa yang akan Anda hadapi.
>>> Twitch Luncurkan Fitur Dual Format untuk Live Streaming Vertikal
Anda hanya bisa berharap data intelijen Anda akurat, lalu Anda maju ke medan dengan semua persenjataan yang Anda miliki, sambil berharap yang terbaik," kata Sersan Staf Konie dari militer AS.
Update Terbaru
Bupati Siak Ngadu ke Gibran Soal DBH dan Utang Rp400 Miliar
Sabtu / 18-07-2026, 20:22 WIB
Kebakaran Hebat di Lereng Bukit Norwegia, Lebih dari 100 Rumah Ludes
Sabtu / 18-07-2026, 20:21 WIB
I’m Dating a Dark Summoner Rilis Trailer Perdana, Tayang Oktober 2026
Sabtu / 18-07-2026, 20:21 WIB
MAPPA Label CONTRAIL Buat Film Animasi untuk HUT ke-80 NAMICS
Sabtu / 18-07-2026, 20:21 WIB
Kaiju Girl Caramelise English Dub Kini Tersedia di Crunchyroll
Sabtu / 18-07-2026, 20:21 WIB
Bungo Stray Dogs WAN! Season 2 English Dub Kini Tersedia di Crunchyroll
Sabtu / 18-07-2026, 20:21 WIB
Apa yang Terjadi Jika Semua Orang di Bumi Melompat Bersamaan?
Sabtu / 18-07-2026, 20:21 WIB
Tes Darah Sederhana Bisa Deteksi Alzheimer Bertahun-tahun Sebelum Gejala Muncul
Sabtu / 18-07-2026, 20:21 WIB
Apa yang Terjadi Jika Meniru Diet Viking ala Erling Haaland?
Sabtu / 18-07-2026, 20:20 WIB
101 Tahun Lalu, Mein Kampf Terbit dan Laku 12 Juta Eksemplar
Sabtu / 18-07-2026, 20:20 WIB
Sering Tiba-Tiba Ngidam Makanan Manis? Ternyata Ini Penyebabnya
Sabtu / 18-07-2026, 20:20 WIB
Pertamina Patra Niaga Perkuat Edukasi Lingkungan Lewat Program SEKAR di Medan
Sabtu / 18-07-2026, 20:20 WIB
ALLU Personal Service: Transaksi Barang Mewah Tanpa ke Gerai
Sabtu / 18-07-2026, 20:19 WIB
Airlangga: Indonesia Gandeng AS dan China Kembangkan AI Nasional
Sabtu / 18-07-2026, 20:19 WIB







