Beberapa orang kerap merasakan dorongan kuat untuk mengonsumsi makanan manis, seperti cokelat atau boba, tepat setelah makan. Jika hanya sesekali, hal ini masih wajar.

Namun, bila terlalu sering, perlu diwaspadai.

>>> Pertamina Patra Niaga Perkuat Edukasi Lingkungan Lewat Program SEKAR di Medan

Fenomena ngidam manis tidak semata-mata karena selera atau kebiasaan. Ada pengaruh biologis dan psikologis yang mendasarinya.

Memahami penyebabnya dapat membantu mengelola asupan gula dengan lebih bijak.

Penyebab Ngidam Makanan Manis

Kurang tidur menjadi salah satu pemicu.

Penelitian dalam Sleep (2018) menunjukkan bahwa kurang tidur meningkatkan hormon ghrelin yang merangsang nafsu makan dan menurunkan leptin yang memberi sinyal kenyang.

Akibatnya, tubuh lebih mudah menginginkan makanan tinggi gula sebagai sumber energi instan.

Melewatkan waktu makan juga dapat memicu ngidam manis. Saat perut kosong terlalu lama, kadar gula darah menurun.

>>> ALLU Personal Service: Transaksi Barang Mewah Tanpa ke Gerai

Tubuh pun mencari energi cepat, seperti makanan manis. Studi dalam Appetite (2020) mengungkapkan bahwa rasa lapar berlebihan meningkatkan keinginan terhadap gula dan karbohidrat sederhana.

Stres dan emosi yang tidak terkelola turut berperan. Hormon kortisol yang dipicu stres dapat memengaruhi nafsu makan.

Penelitian dalam Psychoneuroendocrinology (2019) mengaitkan peningkatan kortisol dengan dorongan menyantap makanan tinggi gula dan lemak, atau yang dikenal sebagai emotional eating.

Kebiasaan sering mengonsumsi gula juga memperkuat keinginan terhadap rasa manis.

Studi dalam The American Journal of Clinical Nutrition (2018) menemukan bahwa semakin sering gula dikonsumsi, semakin besar dorongan tubuh untuk menginginkannya kembali.

>>> Airlangga: Indonesia Gandeng AS dan China Kembangkan AI Nasional

Mengurangi asupan gula secara bertahap disarankan agar lidah beradaptasi dengan rasa manis alami dari buah atau sumber lain.