Militer Amerika Serikat tengah mengembangkan strategi baru untuk menghadapi serangan drone murah yang masif, terutama drone Shahed buatan Iran.

Selama ini, AS kerap menggunakan rudal canggih yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan drone lawan.

>>> Liverpool Sepakati Kontrak Andoni Iraola, Pengumuman Pekan Ini

Sistem Madis: Solusi Pertahanan Udara Baru

Korps Marinir AS kini mengandalkan sistem Marine Air Defense Integrated System atau Madis. Sistem ini dirancang untuk melumpuhkan ancaman udara tanpa menguras anggaran pertahanan.

Madis menggunakan kendaraan Joint Light Tactical Vehicles (JLTV) yang merupakan penerus Humvee. Sistem ini dikembangkan oleh perusahaan Kongsberg Defence & Aerospace.

Spesifikasi utama Madis meliputi radar canggih untuk mendeteksi drone kecil, kemampuan perang elektronik untuk mengacaukan sinyal kendali, senapan rantai XM914 kaliber 30mm buatan Northrop Grumman, dan rudal Stinger sebagai opsi tambahan.

Sistem ini mengintegrasikan berbagai sensor dan persenjataan dalam satu platform bergerak. Hal ini memungkinkan respons cepat terhadap ancaman di ketinggian rendah.

Efisiensi Biaya dalam Menghadapi Ancaman Udara

Penggunaan Madis diharapkan mengurangi ketergantungan pada rudal udara-ke-udara yang mahal. Sebagai gambaran, rudal AIM-120 berharga sekitar USD 1 juta atau Rp 16 miliar per unit.

>>> Timnas U19 Indonesia Vs Timor Leste: Strategi Rotasi Nova Arianto

Strategi baru ini memberi komandan berbagai pilihan metode pelumpuhan, mulai dari senapan mesin, gangguan elektronik, hingga rudal, sesuai level ancaman.

Dengan beralih ke peluru senapan mesin, biaya per serangan terhadap drone dapat ditekan secara signifikan. Transisi taktik ini mengedepankan aspek keberlanjutan ekonomi dalam peperangan.

Tantangan Produksi dan Realitas di Lapangan

Meski lebih ekonomis, sistem berbasis peluru tetap memiliki hambatan. Produsen pertahanan AS masih kesulitan memproduksi amunisi dalam jumlah besar untuk kebutuhan jangka panjang.

Variasi jenis drone musuh seringkali tidak terduga dan sulit diantisipasi. Intelijen yang akurat menjadi kunci sebelum pasukan terjun ke medan tempur.

Sersan Staf Konie dari militer AS menyatakan bahwa banyaknya jenis drone membuat situasi di lapangan sulit diprediksi.

>>> 10 Ciri Orang Cerdas saat Mengobrol yang Jarang Disadari

Prajurit harus bersiap dengan segala persenjataan yang tersedia sambil berharap data intelijen sudah tepat.