Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menjadi perhatian serius industri multifinance. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga kendaraan, terutama yang bergantung pada komponen impor.

Depresiasi rupiah juga diprediksi memicu efek berantai pada minat masyarakat mengajukan kredit kendaraan. Risiko penurunan kualitas pembiayaan pun ikut membayangi perusahaan pembiayaan.

>>> Cara Cek Penerima PIP 2026 Terbaru: Jadwal Cair dan Besaran Dana Resmi

Respons Adira Finance

Chief Financial Officer PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance), Gani, mengatakan pergerakan rupiah merupakan indikator krusial yang terus dipantau.

Pelemahan nilai tukar dapat memaksa produsen menyesuaikan harga jual kendaraan di pasar domestik.

Kenaikan harga pada model dengan komponen impor tinggi dapat menekan daya beli masyarakat.

Hal ini secara otomatis memengaruhi pertimbangan calon konsumen dalam mengambil keputusan pembelian atau pengajuan pembiayaan baru.

Dampak pelemahan kurs tidak dirasakan seragam di seluruh lapisan pasar. Gani berpendapat efeknya bergantung pada jenis kendaraan, skema kredit, dan profil kebutuhan nasabah.

Antisipasi terhadap kualitas pembiayaan menjadi prioritas, terutama jika kenaikan harga unit terjadi bersamaan dengan meningkatnya beban biaya hidup.

Kombinasi faktor tersebut berpotensi mengganggu kelancaran pembayaran cicilan debitur.

Hingga April 2026, Adira Finance mencatat total penyaluran pembiayaan kendaraan bermotor sebesar Rp 11,3 triliun.

Kontribusi utama berasal dari segmen roda dua dan roda empat yang masih tumbuh positif.

Pandangan CIMB Niaga Auto Finance

Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF), Ristiawan Suherman, menilai tekanan terhadap industri pembiayaan kendaraan kemungkinan besar terasa dalam jangka pendek.

>>> Serangan NFC pada HP Android Melonjak 188%, Saldo Rekening Bisa Ludes