Volatilitas rupiah menjadi penyebab utama.

Ristiawan memproyeksikan perlambatan permintaan pembiayaan jika rupiah terus melemah. Kenaikan harga unit di diler menjadi pemicu utama yang membuat calon nasabah menahan diri.

Selain permintaan, risiko terhadap kualitas portofolio kredit juga mengemuka. Jika kemampuan bayar nasabah tergerus inflasi dan pelemahan mata uang, rasio kredit bermasalah bisa meningkat.

Meski menghadapi tantangan, CNAF optimistis target pertumbuhan moderat dapat tercapai. Strategi yang diterapkan adalah lebih selektif dalam memilih calon debitur.

CNAF fokus pada akuisisi nasabah berprofil risiko rendah dan rekam jejak kredit baik. Perusahaan juga memperketat pengawasan dan monitoring portofolio pembiayaan.

Per April 2026, penyaluran pembiayaan baru untuk mobil baru dan bekas mencapai Rp 1,97 triliun.

Optimisme BRI Finance

Corporate Secretary BRI Finance, Aditia Fakhri Ramadhani, mengakui potensi dampak pada penyesuaian harga kendaraan. Kendaraan dengan kandungan impor dominan dipastikan mengalami kenaikan harga jual signifikan.

Namun, permintaan pembiayaan sejauh ini masih resilien. Perusahaan terus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam setiap proses persetujuan kredit untuk memitigasi risiko.

BRI Finance berupaya tetap adaptif dengan menyesuaikan strategi bisnis mengikuti dinamika pasar. Penguatan manajemen risiko menjadi kunci agar perusahaan tetap kompetitif dan aman dari sisi permodalan.

Per April 2026, rasio Non-Performing Financing (NPF) BRI Finance tercatat 2,40%. Kontribusi pembiayaan mobil baru mencapai 34,75%, sedangkan mobil bekas 8,82%.

>>> Inflasi Zona Euro Tembus 3,2% Akibat Perang Iran, ECB Siap Naikkan Suku Bunga

Ramadhani menilai prospek bisnis hingga akhir tahun tetap menjanjikan. Kendaraan sudah menjadi kebutuhan pokok mobilitas masyarakat, sehingga segmen pasar tertentu diyakini stabil meski rupiah berfluktuasi.