Ekonom Usul Pangkas Belanja Masif Demi Selamatkan Rupiah di 2026
Ekonom sekaligus dosen Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menyoroti pelemahan rupiah yang terus berlanjut. Menurutnya, diperlukan kombinasi kebijakan moneter jangka pendek dan perbaikan fundamental ekonomi.
Langkah Bank Indonesia dinilai sudah tepat, seperti operasi pasar dan penyerapan likuiditas melalui SRBI serta SVBI.
>>> Cara Membatalkan Kode Billing di Coretax DJP Terbaru 2026, Praktis Tanpa Ribet
Namun, efektivitas kebijakan itu terhambat likuiditas fiskal, termasuk penempatan dana SAL Rp200 triliun di bank Himbara.
Usulan Penyesuaian Belanja Negara
Wijayanto mendorong pemerintah berani menyesuaikan belanja negara secara masif. Program besar yang belum mendesak, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), KDMP, dan pengadaan alutsista, sebaiknya ditunda.
Subsidi energi harus tetap dipertahankan untuk menjaga daya beli masyarakat dan mencegah gejolak sosial. Pemerintah daerah juga perlu mengantisipasi defisit fiskal yang membayangi 80 persen Pemda.
Pengelolaan utang harus diperkuat agar tidak bergantung pada penerbitan global bond. Langkah ini diharapkan memberi ruang napas bagi APBN dan mengembalikan kepercayaan pasar.
Perbaikan Neraca Pembayaran dan Iklim Investasi
Untuk memperbaiki neraca pembayaran, pemerintah perlu mengevaluasi regulasi yang menghambat investasi. Perbaikan iklim usaha menjadi kunci meningkatkan aliran FDI.
Tata kelola pasar modal harus dibenahi untuk menarik modal portofolio.
>>> Harga Pangan Naik, Ini 5 Siasat Masak Enak di Bawah Rp50 Ribu Terbaru 2026
Kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan parkir 100 persen dana di bank Himbara selama setahun dinilai memberatkan eksportir dan berpotensi memicu capital outflow.
Pasar mulai meragukan konsistensi pemerintah dalam menerapkan rezim devisa bebas. Komunikasi pejabat publik juga perlu diperbaiki agar tidak menimbulkan salah persepsi.
Reformasi Sistem Subsidi Nasional
Skema subsidi dan perlindungan sosial saat ini mencapai Rp900 triliun per tahun. Sistem yang tersebar di banyak program menyebabkan biaya operasional tinggi.
Subsidi berbasis barang dinilai rawan tumpang tindih. Wijayanto mengusulkan transformasi subsidi menjadi transfer dana langsung ke rekening penerima atau dompet digital khusus.
Pemutakhiran data penerima bantuan sosial secara berkala dan penggunaan AI untuk pengawasan dapat meningkatkan transparansi. Dengan demikian, anggaran subsidi tepat sasaran dan efisien.
>>> Lulu Tobing dan Yasmin Napper Ungkap Kenangan Haru di Film Keluarga
Koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi syarat pemulihan ekonomi yang berkelanjutan.
Update Terbaru
Patch Terbesar Slay the Spire 2 Hadirkan Relic Baru dan Penyesuaian Kartu
Sabtu / 18-07-2026, 04:29 WIB
Bethesda Umumkan Masa Depan Fallout dan The Elder Scrolls
Sabtu / 18-07-2026, 04:29 WIB
Jadwal Rilis Anime dan Manga di Amerika Utara, 12-18 Juli
Sabtu / 18-07-2026, 04:29 WIB
Inggris Panggil Henry Slade untuk Hadapi Fiji di Liverpool
Sabtu / 18-07-2026, 04:23 WIB
Phillips Law Group Masuk Jajaran Pengacara Kecelakaan Mobil Terbaik di Phoenix
Sabtu / 18-07-2026, 04:22 WIB
Bukan Cuma Mochi, Ini 5 Kuliner Legend Sukabumi yang Wajib Dicoba
Sabtu / 18-07-2026, 04:22 WIB
Bukan Cuma Gudeg dan Selat, Ini 5 Tempat Kuliner Legendaris Solo yang Bikin Ketagihan
Sabtu / 18-07-2026, 04:22 WIB
7 Inovasi Sambungan Pintar China untuk Perbaikan Jembatan Efektif 2026
Sabtu / 18-07-2026, 04:22 WIB
Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 19 – 26 Juli 2026
Sabtu / 18-07-2026, 04:00 WIB
Jadwal Bioskop Trans TV 19 – 26 Juli 2026
Sabtu / 18-07-2026, 04:00 WIB
SPBU di Jakarta-Bekasi Larang Pengisian BBM Suzuki Thunder, Komunitas Protes
Sabtu / 18-07-2026, 03:43 WIB
Milania Giudice Tertawa di Dalam Mobil Polisi Saat Ditangkap karena Penganiayaan
Sabtu / 18-07-2026, 03:38 WIB
Paket World Cup Rp15,5 Miliar: Tiket VIP, Helikopter, dan Pesta 50 Cent
Sabtu / 18-07-2026, 03:38 WIB
Mantan Taylor Frankie Paul Kecam Sikapnya yang Anggap Remeh Pengadilan Anak
Sabtu / 18-07-2026, 03:38 WIB







