Kerusakan biasanya dimulai dari perlemakan hati atau peradangan. Jika penyebabnya tidak dihentikan, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi fibrosis atau pembentukan jaringan parut pada hati.

Pada tahap awal fibrosis, hati masih memiliki kemampuan untuk memperbaiki diri. Namun ketika jaringan parut semakin banyak, aliran darah di dalam hati terganggu dan berkembang menjadi sirosis.

"Semakin dini kerusakan hati dihentikan, semakin besar peluang hati untuk pulih dan terhindar dari komplikasi serius seperti sirosis dan kanker hati," ujar Prof. David.

Ia menjelaskan, pencegahan dapat dilakukan melalui vaksinasi hepatitis A dan B, menjaga berat badan ideal, mengonsumsi makanan sehat, rutin berolahraga, menghindari alkohol, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan seks aman.

Untuk deteksi dini, masyarakat berisiko disarankan menjalani pemeriksaan darah, tes fungsi hati, USG hati secara berkala, hingga pemeriksaan fibrosis hati secara non-invasif.

>>> 10 Negara dengan Warga Paling Jarang ke Luar Negeri, Indonesia Nomor 2

Sementara pengobatan dilakukan sesuai penyebab penyakit, mulai dari terapi antivirus untuk hepatitis B dan C, penanganan perlemakan hati akibat obesitas, hingga terapi lanjutan seperti imunoterapi, kemoterapi, atau transplantasi hati pada kasus yang sudah berat.