Selain itu, pemerintah juga menerapkan kebijakan pelabelan kandungan nutrisi pada makanan guna menekan konsumsi gula, garam, dan lemak yang menjadi faktor risiko berbagai penyakit kronis termasuk gangguan hati.

Budi menilai pendekatan promotif dan preventif jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut. "Penyakit hati ini prevalensinya tinggi.

Karena itu promotif dan preventif jauh lebih penting daripada kuratif. Lebih murah dan kualitas hidup masyarakat juga lebih baik," katanya.

Fungsi Hati dan Pencegahan Penyakit Hati Kronis

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam dan pakar hepatitis Indonesia, Prof. Dr. dr. David Handojo Muljono, Sp.

>>> IHSG Sesi I 2026 Melesat, Asing Borong Deretan Saham Blue Chip

PD, FINASIM, FAASLD, PhD, menjelaskan, hati merupakan "pabrik kimia terbesar" dalam tubuh yang bekerja selama 24 jam tanpa henti.

Organ hati memiliki sedikitnya enam fungsi utama yang sangat penting bagi tubuh.

"Pertama, hati berfungsi sebagai organ detoksifikasi dengan menyaring racun dari darah, mengolah obat-obatan, serta menetralisir alkohol dan zat berbahaya," ujar Prof David.

Kedua, hati berperan mengatur metabolisme dengan mengubah karbohidrat menjadi energi, menyimpan cadangan gula (glikogen), serta mengatur metabolisme lemak dan protein.

Ketiga, hati memproduksi berbagai protein penting, termasuk albumin yang membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh serta faktor pembekuan darah.

"Hati adalah pembangkit energi dan pengatur bahan bakar tubuh," jelasnya.

Selain itu, hati juga berfungsi mengatur pembekuan darah, memproduksi empedu untuk membantu pencernaan lemak dan penyerapan vitamin A, D, E, dan K, serta menjadi bagian penting sistem imun tubuh dalam melawan bakteri, virus, dan zat asing.

Prof. David menjelaskan, penyakit hati kronis umumnya berkembang secara perlahan dan sering kali tidak menimbulkan gejala pada tahap awal.