Kecerdasan emosional yang diterapkan orang tua dapat menjadi teladan positif bagi anak. Pola asuh ini membantu anak belajar mengelola emosi dan tumbuh menjadi pribadi tangguh.

Perilaku orang tua dalam menghadapi persoalan sehari-hari menjadi contoh utama. Sikap tersebut sering ditiru anak saat mereka merasa lelah, sakit, atau rewel.

>>> Wisatawan Ubah Strategi Liburan dengan Prioritaskan Keamanan

Orang tua dengan kecerdasan emosional tinggi tidak sekadar mengendalikan perilaku anak. Mereka juga memahami perasaan di balik tindakan tersebut.

Respons orang tua menentukan rasa aman, didengar, dan dipahami pada anak.

Psikolog pendidikan Michele Borba mengatakan kecerdasan emosional dapat diajarkan sejak balita, terutama dari cara orang tua memberi respons.

Penelitian dalam jurnal Personality and Individual Differences mengungkapkan kecerdasan emosional (EQ) adalah kemampuan mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri.

Kemampuan ini juga memengaruhi emosi orang lain.

Faktor kognitif, lingkungan sosial, dan nilai keluarga sangat memengaruhi EQ. Anak dengan EQ tinggi lebih mampu mengatasi konflik dan membangun persahabatan erat.

Orang dewasa dengan EQ tinggi berpotensi memiliki hubungan personal dan profesional lebih baik.

Studi dalam American Journal of Public Health menyebutkan kemampuan sosial-emosional anak saat TK memprediksi kesuksesan jangka panjang.

Anak usia 5 tahun yang mampu berbagi dan bekerja sama memiliki potensi akademik lebih baik.

Riset dari Frontiers in Psychology menambahkan bahwa EQ tinggi menurunkan risiko gangguan mental seperti depresi pada anak.

Orang tua yang cerdas secara emosional memahami bahwa reaksi spontan bukan selalu tindakan terbaik. Mereka terbiasa berhenti sejenak dan menarik napas untuk memikirkan respons tepat sebelum bereaksi meledak-ledak.

>>> Kenali Ragam Jenis Spons Pembersih Rumah dan Fungsinya agar Tidak Merusak Perabot