Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,61 persen secara tahunan pada kuartal pertama 2026.

Angka ini disambut optimisme sebagai tanda stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

>>> Toyota Land Hopper: Motor Listrik Roda 3 Bergaya Land Cruiser yang Banyak Dicari

Namun, sejumlah indikator lain menunjukkan gambaran yang lebih kompleks.

Nilai tukar rupiah terus tertekan, pasar saham mengalami koreksi dalam, dan struktur ekonomi masih bergantung pada sektor tradisional.

Tekanan Nilai Tukar Rupiah

Sepanjang awal 2026, rupiah melemah signifikan terhadap dolar AS.

Pada Januari, nilai tukar masih di Rp16.675 per dolar AS, lalu terus merosot hingga menembus Rp17.000 pada Maret-April.

Puncaknya, pada akhir April 2026, rupiah menyentuh Rp17.346 per dolar AS, salah satu level terlemah dalam sejarah.

Pelemahan ini dipicu oleh ketidakpastian global, pelarian modal, dan risiko domestik.

Dampaknya langsung terasa di sektor riil. Biaya impor bahan baku dan energi melonjak, mendorong kenaikan harga barang konsumen.

Beban utang luar negeri pemerintah dan swasta juga membengkak.

Gejolak Pasar Modal Domestik

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun sekitar 19,5 persen secara year-to-date hingga akhir April 2026.

IHSG bergerak di kisaran 6.950-7.000, jauh dari posisi awal tahun.

Pada akhir Januari 2026, IHSG anjlok lebih dari 7 persen dalam sehari, memicu trading halt.

>>> Resmi, Tak Perlu Bawa SIM Fisik Jika Sudah Punya SIM Digital Terbaru 2026

Faktor pemicu meliputi ketidakpastian global, kekhawatiran transparansi pasar, isu tata kelola, dan aksi jual investor asing.

Koreksi tajam ini mencerminkan persepsi risiko yang meningkat terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Ketergantungan pada Sektor Tradisional