Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS belakangan ini mulai menimbulkan kekhawatiran di sektor bisnis nasional.

Perusahaan pembiayaan atau multifinance menjadi salah satu sektor yang diprediksi merasakan dampaknya, terutama yang memiliki utang dalam valuta asing.

>>> IHSG Hari Ini Diprediksi Tertekan, Analis Sarankan Wait and See

PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) menyatakan bahwa pergerakan kurs saat ini tidak berdampak negatif terhadap kewajiban keuangan perusahaan.

Manajemen menegaskan seluruh utang valas telah terlindungi dari risiko fluktuasi mata uang melalui strategi manajemen risiko yang ketat.

Corporate Communication Head BFI Finance, Dian Ariffahmi, menjelaskan bahwa pihaknya telah mengamankan seluruh pinjaman dalam mata uang asing.

Strategi yang diterapkan adalah melakukan lindung nilai penuh atau full hedging ke dalam rupiah.

Strategi BFI Finance Hadapi Risiko Nilai Tukar

BFI Finance menerapkan full hedging dengan mengonversi risiko seluruh pinjaman valas ke dalam rupiah melalui instrumen keuangan tertentu.

Langkah ini mengeliminasi risiko kurs karena tidak ada posisi terbuka yang bisa menyebabkan kerugian akibat melemahnya rupiah.

Perusahaan juga menjaga stabilitas kewajiban agar jumlah utang yang harus dibayar tetap stabil meskipun pasar keuangan volatil.

Keamanan finansial pun terlindungi karena arus kas perusahaan tidak terpengaruh langsung oleh gejolak ekonomi global.

Dengan skema perlindungan ini, Dian memastikan BFI Finance tidak menghadapi ancaman kerugian finansial dari depresiasi rupiah.

Upaya ini merupakan langkah proaktif untuk menjaga stabilitas operasional dan komitmen pembayaran utang kepada kreditur.

Penilaian PEFINDO soal Risiko Valas Multifinance

Lembaga pemeringkat PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) menilai risiko utang valas pada industri multifinance di Indonesia masih aman.

Kepala Divisi Pemeringkatan Jasa Keuangan PEFINDO, Danan Dito, menyebut porsi pendanaan luar negeri di sektor ini tidak terlalu dominan.