Industri video game global tengah menghadapi masa sulit yang diprediksi berlanjut hingga 2026. Kombinasi PHK massal, ketidakpastian ekonomi, dan adopsi AI memicu kekhawatiran besar di kalangan pengembang.

Sejak 2022 hingga awal 2026, sekitar 45.000 pekerja game kehilangan pekerjaan. Gelombang PHK ini menciptakan ketidakstabilan yang merata di seluruh studio pengembangan.

>>> Profil Tim Piala Dunia 2026 Grup E: Pantai Gading Siap Pecahkan Kutukan

Survei Ungkap 44% Developer Ingin Keluar

Skillsearch melakukan survei terhadap lebih dari 1.000 pekerja industri game. Hasilnya, 44% responden pernah atau sedang mempertimbangkan untuk berhenti dari dunia game.

Survei mencakup Inggris, Eropa, Amerika Utara, Asia-Pasifik, hingga Timur Tengah dan Afrika Utara. Ketidakpuasan kerja terjadi secara global.

Di Inggris, 76% pekerja berencana mencari peluang karier baru di luar industri game pada 2026. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding wilayah lain.

Dari mereka yang pernah terkena PHK, 45% berhasil kembali ke industri yang sama. Namun hanya 27% yang merasa posisi barunya aman dari PHK susulan.

AI Jadi Pedang Bermata Dua

Lebih dari separuh responden mengaku perusahaannya sudah mengintegrasikan alat AI generatif. AI dinilai mampu meningkatkan efisiensi, membantu tim kecil, memangkas waktu produksi, dan mempercepat iterasi.

Namun 64% responden menilai ketergantungan pada AI bisa mematikan orisinalitas dan kreativitas. Hanya 29% yang yakin perusahaan memiliki pedoman etika AI yang transparan.

>>> Harga BBM Pertamina Turun per 1 Juni 2026, Dexlite dan Dex Lebih Murah

Sektor seni menjadi yang paling terdampak. Banyak studio besar mulai menggantikan concept art, aset sementara, voice acting, dan desain lingkungan dengan AI.

AI juga menimbulkan masalah lingkungan. Operasional pusat data untuk AI membutuhkan energi listrik dan air pendingin dalam jumlah besar.

Kesenjangan antara Retorika dan Realitas

CEO Take-Two Interactive, Strauss Zelnick, menyatakan kreativitas manusia tidak tergantikan. Namun perusahaan seperti Nvidia, Capcom, Epic Games, dan Nexon justru agresif berinvestasi di AI.

Sejak 2024, muncul laporan pengembang kehilangan pekerjaan karena perannya diotomatisasi. Ironisnya, mereka digantikan AI yang sebelumnya mereka bantu latih.

John Romero, tokoh legendaris industri game, menilai krisis saat ini lebih parah dibanding kehancuran era 1980-an. Krisis dulu dipicu kualitas game buruk, kini menyasar tenaga kerja dan etika.

Tanpa kebijakan baru yang melindungi pekerja dan mengatur AI, eksodus massal dari industri game mungkin tak terhindarkan.

>>> BCA Dukung UMKM dan Edukasi Literasi Keuangan di Jogja Financial Festival 2026

Hal ini bisa berdampak pada inovasi dan kualitas game di masa depan.