>>> Pinjaman ASN Bank Daerah Pasca Lebaran 2026: Resmi, Aman, dan Cepat Cair

Beijing juga mengkritik tawaran dialog yang sering disampaikan oleh pihak Tokyo. Menurut China, ajakan diskusi tersebut merupakan bentuk kemunafikan karena dianggap tidak memiliki ketulusan yang nyata.

Transformasi Strategi Pertahanan Jepang

Di bawah pemerintahan PM Takaichi, Jepang terlihat semakin menjauh dari kebijakan pasifisme yang dianut sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Tokyo kini lebih aktif dalam menyusun strategi global dan memperkuat postur pertahanannya.

Menhan Koizumi menegaskan bahwa peningkatan militer China merupakan ancaman serius bagi keamanan Jepang. Oleh karena itu, modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) menjadi prioritas utama bagi Negeri Sakura.

Fokus pengembangan teknologi pertahanan Jepang mencakup beberapa sektor:

  • Kecerdasan Buatan (AI): integrasi sistem otomatisasi pada komando dan kendali militer.
  • Sistem Tanpa Awak: penggunaan drone udara, laut, dan darat untuk pengawasan.
  • Ruang Angkasa: penguatan satelit komunikasi dan sistem peringatan dini.
  • Pertahanan Siber: perlindungan infrastruktur vital dari serangan digital lintas negara.

Transformasi ini dilakukan sebagai respons atas dinamika keamanan di kawasan Indo-Pasifik yang kian tidak menentu.

Tudingan Militerisme Baru

China secara konsisten mengecam langkah-langkah Jepang sebagai bentuk kebijakan "militerisme baru". Beijing berpendapat bahwa ambisi militer Tokyo dapat mengganggu stabilitas keamanan di seluruh kawasan Asia.

Meski mendapat kritik keras, Jepang tetap berencana mengerahkan rudal jarak jauh di titik-titik strategis yang berdekatan dengan China.

>>> DSI Ambil Alih Ekspor SDA: 5 Poin yang Mengguncang Pasar 2026

Langkah ini diambil sebagai bagian dari sistem pencegahan (deterrence) untuk menjaga kedaulatan wilayah mereka.