Integrasi teknologi bersih ini menekan biaya operasional drastis dibandingkan listrik konvensional. Kontribusi pengurangan emisi gas rumah kaca menjadi bukti partisipasi desa dalam mitigasi perubahan iklim.

Modernisasi Irigasi Pertanian dengan Tenaga Surya

DEB Keliki juga menerapkan teknologi surya untuk irigasi sawah. Pompa air tanah bertenaga surya menjadi tumpuan petani saat musim kemarau.

Sistem ini didukung PLTS berkapasitas 17,5 kWp untuk memastikan debit air mencukupi.

Aliran air menjangkau tujuh wilayah Subak, yaitu Subak Tain Kambing, Sebali, Uma Desa Keliki, Jungut, Umelikode, Bangkiangsidem, dan Lauh Batu.

Sistem irigasi bertenaga surya menghasilkan energi bersih 84.000 kWh per tahun. Ini mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 23,1 ton CO2eq per tahun.

Penghematan biaya listrik pompa air mencapai Rp35 juta setahun. Ketersediaan air bagi petani di tujuh Subak pun stabil.

I Wayan Sumada menambahkan bahwa dukungan teknologi ini berdampak langsung pada kualitas hasil bumi.

>>> 5 Perbedaan Merek Dagang dan Hak Cipta Terbaru 2026 yang Banyak Dicari Pebisnis

Penggunaan energi bersih berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas lahan sawah yang beralih ke pertanian organik.

Peningkatan Produktivitas Padi Organik

Program pembinaan Pertamina mengubah pola tanam tradisional menjadi lebih modern dan berkelanjutan melalui sistem padi organik. Hasilnya, petani merasakan lonjakan jumlah panen yang signifikan.

Sebelum program, hasil panen padi stagnan di angka relatif rendah. Setelah pendampingan teknis dan jaminan pengairan, produksi gabah kering naik pesat.

Sebelum program, hasil panen 5-5,5 ton per hektare. Setelah pembinaan dan PLTS, menjadi 8,7 ton per hektare.

Persentase kenaikan sekitar 60-70%.

Peningkatan ini memberikan dampak ekonomi langsung bagi keluarga petani di Desa Keliki sekaligus memperkuat ketahanan pangan regional.