Film horor psikologis fiksi ilmiah Backrooms mencatatkan pembukaan impresif di box office Amerika Utara.

Film debut sutradara Kane Parsons ini meraup US$81,4 juta atau sekitar Rp1,45 triliun di pasar domestik.

>>> Nial Horan Senang Sempat Habiskan Waktu dengan Liam Payne

Backrooms langsung menempati posisi puncak box office.

Di pasar internasional, film ini mendulang US$36,5 juta sehingga total perolehan global mencapai US$118 juta.

Angka tersebut fantastis mengingat bujet film hanya US$10 juta. Variety menyebut Backrooms sebagai salah satu film paling menguntungkan tahun ini.

Rekor dan Fenomena Media Sosial

Backrooms memecahkan beberapa rekor. Film ini mencatat pendapatan akhir pekan pembukaan terbesar untuk A24, mengalahkan film Civil War (2024).

Film ini juga menjadi debut terbesar untuk film horor orisinal dan awal terbaik bagi sutradara pemula di film non-waralaba.

Kane Parsons menjadi sutradara termuda yang memiliki film nomor 1 di box office.

Backrooms menjadi perbincangan di media sosial.

>>> NVIDIA Resmi Luncurkan Prosesor RTX Spark untuk PC Windows Arm

Salah satu alasannya adalah dugaan penggunaan rekaman suara salam berbahasa Indonesia dari Ilyas Harus dalam The Golden Records yang diluncurkan NASA pada 1977.

Film ini diangkat dari serial web Parsons dan terinspirasi creepypasta. Ceritanya mengikuti Clark, pemilik toko furnitur yang menemukan pintu rahasia di bawah tokonya.

Clark menghilang setelah menjelajahi ruangan tak berujung. Terapisnya, Mary, kemudian berusaha menyelamatkannya.

Selain Backrooms, film Obsession juga mencatat pendapatan positif.

Film di posisi kedua ini meraup US$26,4 juta di pekan ketiga, dengan total domestik US$104,7 juta.

Obsession adalah film horor supranatural karya YouTuber Curry Barker. Perolehan globalnya mencapai US$148 juta dari bujet hanya US$1 juta.

Analis Jeff Bock dari Exhibitor Relations mengatakan fenomena Backrooms dan Obsession yang diminati Gen Z menjadi catatan sejarah.

>>> Red Hat Luncurkan Praktik Terbaik untuk Optimalkan Layanan Agen AI

"Ini seharusnya memberdayakan industri. Ada penonton baru, dan mereka menunggu konten seperti ini," ujarnya.