Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjadi tantangan serius bagi berbagai sektor industri di Indonesia.

Pada perdagangan Jumat pagi, 22 Mei 2026, mata uang Garuda terpantau merosot hingga menyentuh level Rp17.677 per dolar AS.

>>> Kemenkes Buka Beasiswa SEHAT 2026, Cek Syarat Dapat Bantuan Rp10 Juta per Semester

Kondisi ekonomi global yang tidak menentu ini memberikan dampak yang cukup luas, terutama bagi industri otomotif nasional.

Banyak produsen mobil di Indonesia kini mulai menyusun strategi khusus guna menghadapi tekanan depresiasi rupiah yang terus berlanjut.

Strategi Efisiensi Daihatsu di Tengah Gejolak Kurs

PT Astra Daihatsu Motor (ADM) menjadi salah satu pemain besar yang turut melakukan penyesuaian strategi.

Meskipun pasar sedang tertekan, jenama asal Jepang ini berupaya tetap tenang dalam mengambil langkah kebijakan perusahaan.

Daihatsu mengeklaim bahwa sebagian besar model yang mereka pasarkan di Indonesia telah memiliki tingkat kandungan lokal yang sangat tinggi.

Komponen lokal pada kendaraan mereka rata-rata sudah melampaui angka 80 persen, sehingga ketergantungan pada barang impor bisa ditekan.

Namun, pihak manajemen mengakui bahwa masih terdapat beberapa komponen tertentu yang pemenuhannya harus melalui jalur impor.

Hal inilah yang menjadi perhatian utama perusahaan agar biaya produksi tidak membengkak secara drastis akibat melemahnya rupiah.

Marketing Director dan Corporate Communication Director PT ADM, Sri Agung Handayani, memberikan penjelasan mendalam saat ditemui di kawasan BSD.

Ia menegaskan bahwa perusahaan sedang fokus pada proses lokalisasi lebih lanjut untuk menjaga keberlanjutan bisnis.

Menurutnya, penyesuaian yang dilakukan mencakup banyak aspek, mulai dari restrukturisasi biaya operasional hingga peningkatan efisiensi di lini perakitan.