Presiden Hungaria Tamas Sulyok secara resmi menolak permintaan Perdana Menteri Peter Magyar untuk meletakkan jabatannya. Keputusan ini memperuncing perselisihan politik antara pemimpin lama dan pemerintahan baru.

Konflik internal mencuat setelah PM Magyar, yang baru memenangkan pemilu secara telak, menuntut Sulyok mundur. Kemenangan Magyar mengakhiri dominasi Viktor Orban yang telah berkuasa lebih dari satu dekade.

>>> Iran dan AS Intens Tukar Pesan Rahasia Soal Kesepakatan Terbaru

Ketegangan Politik Pasca Pemilu Hungaria

PM Magyar memberikan tenggat waktu ketat kepada Presiden Sulyok untuk meninggalkan kursi kepresidenan.

Tenggat waktu berakhir pada Minggu malam, 31 Mei 2026 pukul 24.00 waktu setempat, namun tidak diindahkan.

Menanggapi tekanan, Tamas Sulyok merilis pernyataan melalui video berdurasi lima menit di Facebook. Ia menjelaskan alasan fundamental di balik keputusannya untuk tetap menjabat.

Sulyok menegaskan keputusannya didasari ketaatan penuh terhadap konstitusi nasional dan norma hukum Uni Eropa. Ia merasa memiliki kewajiban moral dan hukum untuk menyelesaikan masa jabatannya.

Langkah PM Magyar mencopot kepala negara dipandang sebagai upaya radikal merombak struktur pemerintahan. Magyar berkomitmen membongkar sistem negara sekuler non-liberal yang dibangun Orban selama 16 tahun.

Tugas Konstitusional dan Kerja Sama Pemerintahan

Presiden Sulyok mempertahankan posisinya dengan beberapa alasan utama. Pertama, menjaga stabilitas lembaga kepresidenan sebagai simbol persatuan di tengah transisi kekuasaan.

Kedua, menjalankan mandat konstitusional sebagai pengawas independen terhadap kekuasaan eksekutif. Ketiga, memastikan transisi kepemimpinan berjalan sesuai jalur hukum yang legal.

Keempat, menghindari preseden buruk di mana pergantian perdana menteri selalu diikuti mundurnya presiden. Sulyok menganggap jabatan presiden memiliki independensi yang tidak bisa diintervensi begitu saja.

>>> Prabowo Hadiri Persemayaman Ryamizard Ryacudu di Kemhan, Momen Penuh Haru