FIFA bersama Dewan Asosiasi Sepak Bola Internasional (IFAB) akan memberlakukan regulasi baru mulai Piala Dunia 2026.

Salah satu aturan yang paling menarik adalah kebijakan yang mengontrol pergerakan pemain dalam situasi bola mati.

>>> Ana/Tiwi dan Putri KW Tumbang di Semifinal Uber Cup 2026

Regulasi ini dirancang untuk membatasi taktik menghalangi pergerakan lawan secara sengaja, baik saat tendangan bebas maupun sepak pojok.

Selama beberapa musim terakhir, skema bola mati menjadi senjata dominan dalam mencetak gol, terutama di Liga Inggris.

Otoritas sepak bola menilai tindakan saling dorong, menarik, dan memblokir lawan sudah perlu ditertibkan.

Pemain yang sengaja bertindak sebagai penghalang untuk membuka ruang bagi rekan setimnya akan dijatuhi hukuman.

Konsep pelarangan ini diadopsi dari olahraga bola basket yang mengenal istilah teknik "screen".

Wasit kini memiliki wewenang untuk langsung menjatuhkan sanksi bahkan sebelum bola ditendang jika pelanggaran sudah terjadi.

Ketentuan baru ini mulai berlaku pada Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan format 48 negara.

Setelah itu, seluruh kompetisi besar di dunia akan menerapkan aturan serupa mulai awal Juli.

Sebagai percontohan, FIFA menggunakan rekaman gol Timnas Inggris saat menghadapi Uruguay dalam laga uji coba pada Maret lalu.

Gol Ben White lewat skema sepak pojok diawali oleh pergerakan Adam Wharton dan Harvey Barnes yang memblokir pemain bertahan Uruguay.

Berdasarkan interpretasi regulasi terbaru, gol semacam itu kemungkinan besar tidak akan disahkan lagi.

Perubahan ini diprediksi berdampak besar bagi tim-tim Premier League, termasuk Arsenal yang dikenal produktif lewat skema bola mati.

Arsenal tercatat berhasil mengemas 25 gol dari situasi bola mati di Liga Inggris musim lalu.