Militer Israel melancarkan serangan udara ke Lebanon Selatan pada Minggu (31/5) subuh. Serangan itu menyasar pemukiman penduduk di kota Deir Zahrani, distrik Nabatieh.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya delapan orang tewas dalam insiden tersebut. Tiga di antaranya adalah perempuan.

>>> Nauru: Negara Kaya yang Bangkrut di 2026, Pejabat Boros Jadi Fakta Mengejutkan

Selain korban jiwa, serangan ini juga menyebabkan 19 orang luka-luka. Korban luka terdiri dari lima anak-anak dan enam perempuan.

Eskalasi Konflik dan Perebutan Kastil Bersejarah

Ofensif militer ini merupakan bagian dari operasi berkelanjutan Israel menghadapi Hizbullah. Fokus serangan belakangan ini mengarah pada penguasaan wilayah strategis di Lebanon Selatan.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengonfirmasi pasukannya berhasil merebut Kastil Beaufort. Benteng peninggalan abad pertengahan itu kini berada di bawah kendali militer Israel.

Netanyahu menyebut jatuhnya kastil yang dikenal sebagai Qalaat al-Shaqif ini sebagai pencapaian dramatis. Ia menegaskan komitmen untuk terus merangsek lebih dalam ke Lebanon.

>>> Muhammad Yusuf Ateh Resmi Jadi Komisaris Telkomsel, Perkuat Strategi 5G

Hizbullah memberikan perlawanan sengit di sekitar area kastil. Mereka juga meluncurkan serangan balasan ke posisi Israel di Shlomi dan Nahariya.

Respons Internasional dan Pertemuan Darurat PBB

Meningkatnya kekerasan di Lebanon memicu kekhawatiran global. PBB dijadwalkan menggelar rapat darurat untuk membahas krisis ini.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, menjadi sosok utama yang menginisiasi pertemuan tersebut. Macron menegaskan bahwa eskalasi di Lebanon saat ini tidak memiliki dasar pembenaran.

Rincian korban serangan di Deir Zahrani:

>>> Apple Gagalkan Penipuan Rp 35 Triliun di App Store Sepanjang 2025

  • Total korban meninggal: 8 orang, termasuk 3 perempuan.
  • Korban luka-luka: 19 orang.
  • Kategori korban luka: 5 anak-anak dan 6 perempuan dewasa.

Seluruh korban saat ini tengah dalam penanganan otoritas kesehatan setempat. Situasi di lapangan dilaporkan masih sangat tegang dengan potensi eskalasi lebih lanjut.