Interaksi tersebut mengantarkan Dandri bergabung dengan manajemen Persisam Putera Samarinda. Ketika Persisam bertransformasi menjadi Bali United, Dandri bersama Nabil Husien memutuskan mendirikan klub baru.

>>> Bek Persik Kiko Carneiro Perpanjang Kontrak hingga 2028 Usai Alami Cedera

"Kalau perjalanan sampai hari ini kurang lebih hampir 24 tahunlah. Umurnya Borneo saat ini sudah memasuki 13 tahun, berarti sisanya itu di Persisam," kata Dandri.

"Ketika Persisam terbang ke Bali United, maka saya dengan Bang Nabil membangun Borneo FC."

Selama karier panjangnya, Dandri banyak menyerap ilmu dari manajer senior. Pengalaman itu dirangkum menjadi dasar dalam mengelola manajemen Pesut Etam.

Prinsip Kekeluargaan dan Tanpa Bintang

Dalam mengelola tim, Dandri selalu mengedepankan atmosfer kekeluargaan. Baginya, kenyamanan seluruh anggota tim merupakan hal krusial.

"Semangat kekeluargaan itu yang menjadi utama. Ketika seorang pemain datang dengan kehebatan, itu bisa menjadi sebuah hal yang tidak baik.

Tapi bagaimana dia bisa memposisikan datang ke rumah Borneo, ada keluarga baru, dan merangkul sampai dengan kompetisi selesai.

Saya pikir itu cara yang lebih bagus," tutur Dandri.

Dandri juga menerapkan aturan ketat mengenai status pemain. Ia menegaskan tidak ada perlakuan khusus atau pelabelan pemain bintang demi menjaga keharmonisan internal.

"Di Borneo itu tidak ada bintang," tandas Dandri. "Itu sebuah kalimat jebakan dan bisa membuat semua jemawa."

Meski Borneo FC memiliki pemain dengan catatan individu terbaik, Dandri menilai hal itu merupakan bagian dari proses tim.

Penghargaan individu diharapkan tidak memicu kecemburuan.

"Itu proses. Tapi kalau endingnya kamu dinyatakan yang terbaik dari segi apapun, berarti lahirlah bintang itu.

Artinya menjaga jangan sampai ada satu bintang yang membuat teman-teman iri," ujarnya. "Saya juga tidak mengatakan pemain leader.

>>> John Herdman Promosikan Mathew Baker ke Timnas Indonesia Senior

Di tim itu semua leader," pungkas Dandri.