Lexus mengungkapkan bahwa para insinyurnya berdebat sengit mengenai shock absorber hingga tahap akhir pengembangan ES generasi terbaru. Perdebatan terfokus pada keseimbangan antara kenyamanan dan rasa jalan yang baik.

Banyak yang mengira perselisihan terbesar dalam pengembangan mobil baru terjadi pada desain, powertrain, atau fitur.

>>> Porsche Cayenne Disulap Jadi Pickup, Dijual Rp470 Jutaan

Namun, Kepala Perancang Lexus ES, Kohei Chiashi, mengatakan bahwa perdebatan paling sengit justru soal shock absorber.

“Kami membahas shock absorber hingga akhir,” ujar Chiashi saat peluncuran ES baru. “Kami harus memberikan road feel yang baik, tetapi menyeimbangkannya antara kenyamanan dan koneksi.

Kami bolak-balik dengan damper tentang pengaturan akhir.”

Jawaban itu menunjukkan prioritas Lexus.

>>> Mazda Dominasi Rekomendasi Mobil Remaja IIHS dan Consumer Reports 2026

ES tidak pernah dirancang sebagai sedan sport, melainkan selalu mengutamakan kenyamanan, kemewahan, dan perjalanan jauh yang terasa ringan.

Chiashi sebelumnya menjelaskan karakter berkendara Lexus modern sebagai mobil yang merespons input pengemudi secara alami, namun setelah ratusan kilometer, “tidak seorang pun di dalam mobil harus merasa lelah.”

Body Lebih Kaku Jadi Andalan

Menariknya, Chiashi juga mengungkapkan bahwa peningkatan terbesar pada kualitas berkendara berasal dari struktur bodi baru ES.

Platform yang lebih kaku memberikan fondasi lebih kuat untuk perbaikan dalam kenyamanan, isolasi kebisingan, dan kontrol getaran.

>>> Review Hyundai Palisade Calligraphy 2026: Mewah Seperti Range Rover dengan Harga Lebih Terjangkau

Lexus juga beralih ke suspensi belakang multi-link, yang meningkatkan kenyamanan dan stabilitas garis lurus. Perdebatan tuning damper berlangsung hingga mobil pra-produksi keluar dari jalur perakitan.