Buku yang tersusun cantik namun tidak pernah disentuh tidak membawa perubahan pada pola pikir.

Mark H. Moore (1995) dalam teori nilai publik menekankan kesuksesan lembaga non-profit diukur dari manfaat nyata, bukan serapan anggaran.

Mary J. Culnan (1985) menyoroti perbedaan ketersediaan fisik dengan keteraksesan kognitif.

Buku baru bernilai guna jika pengguna mampu menemukan, memahami, dan mengaplikasikan informasinya.

>>> BRI Perluas Layanan Money Changer di Bandara dan Perbatasan, Resmi dan Tanpa Ribet

Perbedaan buku sebagai aset dan akses: aset berfokus pada jumlah koleksi untuk laporan, sedangkan akses berfokus pada bagaimana koleksi meningkatkan mutu pembelajaran.

Lembaga pendidikan diharapkan menggeser orientasi pengelolaan perpustakaan.

Pentingnya Peran Kepemimpinan dalam Literasi

Tanggung jawab menghidupkan literasi tidak bisa dibebankan hanya pada pengelola perpustakaan. Pimpinan lembaga memiliki peran vital menentukan apakah perpustakaan menjadi ruang pelengkap atau pusat strategi institusi.

Setiap lembaga memiliki target pencapaian, mulai dari penguatan karakter siswa hingga reputasi akademik. Perpustakaan harus diintegrasikan ke dalam visi tersebut agar dirasakan sebagai kebutuhan mendesak.

Megan Oakleaf (2010) menjelaskan perpustakaan akademik harus membuktikan kontribusi nyata terhadap misi institusi. IFLA (2015) memandang perpustakaan sekolah sebagai bagian tak terpisahkan dari layanan pendukung belajar mengajar.

Pengelola perpustakaan perlu mengubah pola komunikasi dengan pimpinan, tidak hanya menyodorkan daftar kekurangan fasilitas. Pustakawan harus menunjukkan data bagaimana koleksi berkontribusi terhadap prestasi dan mutu akademik.

Mengukur Mutu Melalui Kualitas Akses Data

Data Renstra Perpusnas 2025–2029 mengungkap rasio koleksi nasional baru 0,9 bahan bacaan per penduduk, padahal standar ideal minimal 2.

Meski koleksi fisik kurang, akses layanan digital melonjak dari 7 juta (2019) menjadi hampir 30 juta kunjungan (2024).

Strategi literasi masa depan tidak boleh hanya terpaku pada pengadaan buku fisik. Perluasan akses dilakukan melalui kolaborasi antarperpustakaan, repositori digital, jurnal terbuka, dan sumber daya pendidikan daring.

Sistem akreditasi perpustakaan perlu bergeser dari ukuran luas ruangan atau jumlah rak menuju tingkat keterpakaian koleksi.

Di era kelimpahan informasi, peran pustakawan menjadi lebih strategis sebagai navigator penyaring informasi valid.

Pustakawan membantu mencegah pengguna tersesat dalam informasi dangkal dengan bimbingan literasi tepat. Kualitas akses yang diberikan perpustakaan tetap terjaga dan berdampak positif bagi intelektualitas pengguna.

Peringatan Bulan Buku Nasional harus menjadi titik balik bagi lembaga pendidikan dalam memandang fungsi strategis perpustakaan.

>>> IHSG Menguat Tipis, Rupiah Anjlok ke Rp17.800 pada 29 Mei 2026

Buku sebagai aset mungkin membuat data terlihat bagus, namun buku sebagai akseslah yang menggerakkan roda pendidikan.