Bapanas Pastikan Harga Beras SPHP Tetap Stabil di Tengah Fluktuasi Dolar

Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan perubahan nilai tukar dolar Amerika Serikat tidak berdampak pada harga beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Pemerintah menegaskan harga jual beras subsidi tersebut tetap dipertahankan agar masyarakat tidak terbebani.

Direktur SPHP Bapanas Maino Dwi Hartono mengatakan hingga saat ini tidak ada rencana penyesuaian harga beras SPHP meski kurs dolar bergerak naik.

"Implikasi menguatnya kurs dolar, pemerintah memastikan tidak berimbas pada harga beras program SPHP," ujar Maino dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, pemerintah juga meminta Perum Bulog menjaga mutu beras yang disalurkan kepada masyarakat. Dengan begitu, warga tetap memperoleh beras dengan kualitas yang baik dan harga yang terjangkau.

"Sehingga masyarakat dapat bersikap tenang," katanya.

Maino mengakui perubahan kurs mata uang asing dapat memengaruhi sejumlah sektor, termasuk pangan. Namun khusus untuk beras SPHP, pemerintah memastikan harga penjualannya tidak berubah karena merupakan bagian dari program subsidi.

"Jadi memang dengan nilai kurs dolar yang berubah dapat berpengaruh ke berbagai hal, termasuk sektor pangan. Tapi kaitan dengan beras SPHP, ini karena program pemerintah, sampai hari ini dipastikan tidak ada perubahan, termasuk harga penjualannya," jelasnya.

Harga Beras SPHP Berdasarkan Wilayah

Bapanas menetapkan harga eceran tertinggi beras SPHP berbeda di tiap wilayah menyesuaikan kondisi distribusi dan geografis.

  • Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, NTB, dan Sulawesi: Rp12.500 per kilogram
  • Sumatera selain Lampung dan Sumsel, NTT, serta Kalimantan: Rp13.100 per kilogram
  • Maluku dan Papua: Rp13.500 per kilogram

Pemerintah menyiapkan anggaran Rp4,97 triliun sepanjang 2026 untuk mendukung keberlanjutan program SPHP. Dana itu digunakan sebagai subsidi penyaluran sekitar 828 ribu ton beras.