Idul Adha identik dengan penyembelihan hewan kurban. Namun, tidak semua anak siap menyaksikan proses tersebut.

Setiap anak memiliki respons berbeda saat melihat pemotongan hewan. Ada yang tenang, ada pula yang menangis atau mendadak diam.

>>> Frisian Flag Gelar Acara Edukasi Keluarga di Bintaro Jaya Xchange Mall 2

Psikolog anak dan keluarga Sani Budiantini Hermawan mengatakan, kesiapan mental anak perlu diobservasi. Jika dipaksa, anak berisiko mengalami trauma jangka panjang.

"Anak biasanya penasaran, tapi ternyata tidak semua siap melihat penyembelihan. Akhirnya tidak mau makan daging, murung, sedih berkepanjangan," ujar Sani.

Psikolog anak Marcelina Melissa menambahkan, anak bisa kaget melihat ekspresi kesakitan hewan. "Bisa muncul respons ingin menolong karena merasa hewan perlu ditolong," katanya.

Langkah Observasi dan Edukasi

Orang tua perlu mengamati kesiapan anak terlebih dahulu. Mulailah dengan melihat dari jarak jauh, lalu mendekat jika anak merasa nyaman.

"Siap tidak siapnya anak perlu diobservasi. Misalnya dari jauh dulu, kemudian mendekat kalau dia oke," kata Sani.

>>> Medcom Rangkum Tiga Berita Menarik Seputar Kuliner dan Kecantikan

Anak laki-laki umumnya lebih berani daripada perempuan. Aktivitas ini biasanya diperbolehkan untuk anak usia SD, namun riwayat emosional tetap dipertimbangkan.

Karakter anak menjadi faktor penting. Anak yang sensitif atau mudah sedih sebaiknya tidak diajak ke lokasi penyembelihan.

"Kalau anaknya sering tidak enakan atau sensitif, lebih baik tidak diberikan melihat langsung. Bisa melalui video dulu untuk melihat efeknya," ujar Sani.

Fokus utama Idul Adha adalah penanaman nilai ibadah, bukan proses pemotongan. "Makna Idul Adha adalah mengingatkan firman Tuhan dan kepatuhan kepada-Nya.

>>> Bill Gates: Stabilitas Keuangan Kunci Kebahagiaan, Bukan Miliaran

Lebih ke maknanya dibanding penyembelihannya," pungkas Sani.